The Leader

The Leader

 

The Leader

 

Bae Joohyeon | Joohyeon | Irene (Red Velvet), Lee Jinki | Jinki | Onew (SHINee)

 

Drabble – 569 Words || Friendship || G – K+

 

Story by @kyo_chan0629

 

Tentang kekhawatiran –atau mungkin ketakutan- Irene sebagai leader baru.

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

“Ada apa?” Jinki memiringkan sedikit kepalanya, begitu wajah manis itu muncul dari balik pintu ruang latihan, saat ia sedang duduk-duduk seusai latihan.

“Eumh… sunbae.” Gadis yang lebih muda darinya dua tahun itu nampak menimbang-nimbang sebelum menutup rapat pintu ruang latihan.

Oppa saja. Ada apa?” Jinki tersenyum, menenggelamkan matanya.

“Eumh… Aku, aku ingin bertanya.” Lanjtunya masih menimbang-nimbang.

Jinki masih terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan ‘adik’nya. Ia juga bingung, karena sebelumnya ia tidak pernah benar-benar mengobrol akrab dengan satu-satunya leader perempuan yang lebih muda darinya itu.

Oppa. Bagaimana cara bertahan… dan membuat yang lain tetap bertahan bersamamu?” Sejujurnya Jinki ingin tertawa mendengar pertanyaan aneh Joohyeon. Oh yang benar saja, pertanyaan macam apa itu?! Tapi ia berusaha mengontrol ekspresi mukanya sebiasa mungkin, tak mau sampai-sampai keluarga barunya didunia hiburan itu ikut-ikutan ‘menghilang’.

Jinki dapat melihat ada perasaan khawatir –atau mungkin ketakutan- diwajah leader baru itu.

“Tidak tahu.” Jawab Jinki polos. Yang langsung membuat Joohyeon mendesah pelan. Bukan ini yang diinginkannya. Sepertinya ia harus benar-benar mencari jawabannya sendiri.

Saat Joohyeon berniat pamit, ia melihat senyum tipis diwajah Jinki. Joohyeon mengerutkan keningnya tak paham.

“Dengar. Kau hanya perlu memikirkan dirimu dan anggotamu. Memikirkan segala yang terbaik untuk kalian.” Ucapnya kemudian.

Dahi Joohyeon semakin mengerut, ia tidak paham betul maksud seniornya itu.

Masih tersenyum, Jinki menjelaskan lagi. “Aku benar-benar tidak tahu Irene. Aku hanya melakukan apa yang kurasa terbaik untukku dan adik-adikku.  Hanya memikirkan bagaimana diriku, Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin.”

Jinki lalu bangkit dari duduknya, dan menepuk puncak kepala Joohyun lembut. Berharap dengan begitu mampu menghapuskan perasaan khawatir, atau ketakutan, dari wajah manis itu.

Hwaiting!” Ucapnya sembari tersenyum dan mengepalkan kedua tangan sejajar dengan wajahnya.

“Tapi, apa berarti senior yang lain tidak memikirkan anggota lainnya?” Pertanyaan spontan penuh kepolosan Joohyeon barusan langsung menghentikan langkah Jinki yang bersiap meninggalkan ruang latihan. Sedangkan Joohyeon sendiri begitu terkejut dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya, ia langsung membekap mulutnya dan merutuki dirinya sendiri dalam hati.

“Tidak Irene. Buka begitu. Mereka, hanya…sakit. Ya, sakit.” Ada keraguan dalam diri Jinki saat menjawab.

“Tapi kan oppa juga sedang sakit sekarang?!” Sahut Joohyeon seolah tak terima dengan penjelasan macam itu.

“Aku sudah sembuh. Aku baik-baik saja. Tidak seperti yang lain.” Jinki menghela napas pasrah, dia kena telak oleh adik yang ‘berumur’ belum sampai setahun itu.

“Mereka pergi bukan karena tidak memikirkan yang lainnya. Mereka pergi karena dirinya sudah tidak bisa lagi dipaksakan selalu terikat bersama-sama. Semuanya begitu mencekik. Mereka dapat, katakanlah, ‘tewas’ perlahan jika terus bertahan. Maka dari itu mereka pergi. Dan kepergian itu bukan akhir dari segalanya. Bukan berarti mereka baik-baik saja sendirian disana, dan tak memikirkan yang lain sama sekali. Mereka terpaksa, dan tak ada pilihan lain. Karena kepergian seperti itu bukanlah perpisahan yang sesungguhnya. Selalu akan ada kebersamaan meskipun jarak membentang. Kau paham maksudku?” Joohyeon mengangguk, ia sudah benar-benar mengerti sepenuhnya. Perkataan leader ‘lama’ itu membuatnya ingin menangis, tapi itu tidak mungkin, karena leader yang lain tidak pernah menangis dihadapan siapapun hanya karena hal semacam ini. “Dan lagi. Bukannya leader ataupun anggota yang lain tidak memikirkan mereka yang pergi. Karena yang lain juga memikirkan mereka yang pergi, maka perpisahan itu terjadi.”

“Terima kasih oppa. Cepatlah kembali.” Uap Joohyeon riang, lalu mendahului Jinki meninggalkan ruang latihan.

Jinki –lagi-lagi- menghela napas berat. Kenapa sesak sekali? Ya, membuat orang lain untuk bersikap tegar dan bersikap sok tegar memang lebih mudah dari kenyataannya. “Bogoshipeo.” Gumammnya sepelan hembusan angin.

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

Hwaiting: Berjuanglah. (Korea)

Oppa: Panggilan untuk perempuan kepada kakak/saudara/laki-laki yang lebih tua. (Korea)

Sunbae: Senior. (Korea)

 

Note’s: Gegara idol group SM yang utuh cuma yg dipimpin *halah* duo ini jadilah fic ini

Semoga mereka bisa bener-bener bertahan sampai akhir *abaikan*

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s