Voiceless 3

Voiceless [3 of 6]

1 of 6 | 2 of 6

 

Kwon Yujin | Yujin (OC), Byun Baekhyun | Baekhyun (EXO/EXO-K)

 

Multichapter – 1028 Words || Comfort, Drama, Family, Friendship, Sad || PG-17 – T

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

“Kenapa kau tidak berhenti untuk datang ke club?” Aku langsung melirik tajam sosok lelaki yang mencoba ikut campur urusanku.

Pandanganku luluh saat menyadari siapa sosok lelaki itu. Kalau tidak salah namanya Baekhyun.

“Kau sendiri kenapa kesini? Apa tidak takut ada fans yang memergokimu?” Aku tidak mau kalah darinya. Aku tahu dari Yuri eonni kalau dia adalah salah satu member dari boyband satu agensi dengan eonni yang sedang naik daun saat ini.

“Hahaha. Kau benar. Aku hanya tidak sengaja lewat sini saat aku melihatmu masuk ke club ini. Entah mengapa aku memutuskan untuk mengikutimu.” Jawabnya ringan.

“Apakah kau penguntit? Aku dengar dari eonni kalau kau adalah fans berat SNSD.” Ucapku asal-asalan.

“Hahaha. Apakah aku terlihat seperti itu?” Jawabnya polos, yang selalu diiringi tawa.

Aku hanya mengangkat kedua bahuku, “Sebaiknya kau pulang. Sebelum ada berita buruk tentang dirimu beredar di media.” Ucapku setengah mengusir. Aku hanya tidak ingin diriku ikut terkena skandal dan berakhir menjadi bahan perbincangan fans-nya.

“Kau mengusirku?”

“Sedikit.”

“Baiklah. Aku akan pergi kalau kau juga pergi.”

“Hei. Apa-apaan kau ini?”

“Aku serius Yujin agasshi.”

“Aku tidak akan pergi!”

“Kalau begitu aku juga.”

Sungguh menyebalkan. Bagaimana bisa makhluk seperti ini menjadi artis yang begitu dielu-elukan?! Lihat saja, selain wajah bayinya itu, kelakuannya pun persis seperti anak TK.

Tak mau menyebabkan masalah, aku memilih pergi dari tempat ini secepat mungkin sebelum ada yang menyadari kehadiran lelaki keras kepala disampingku.

 

*Voiceless*

 

“Apa club itu rumah keduamu?” Tanyanya saat aku sudah berada didalam mobilnya. Bukan keinginanku duduk disini, hanya saja dengan seenaknya lelaki itu menyeretku masuk kedalam mobilnya.

“Kenapa memang?” Tanyaku balik dengan malas.

“Beberapa sunbaenim nampak tak asing dengannmu. Manager hyung juga bilang kalau dia pernah melihatmu beberapa kali dibeberapa club.” Dia menjelaskan panjang lebar, fokusnya pada jalanan tak teralihkan sedikitpun.

“Oh. Ya, kau boleh mengatakannya begitu.” Jawabku sekenanya, tak mau ambil pusing.

“Alkohol buruk untuk tubuhmu.” Sepertinya ia mau mulai mengguruiku, sama seperti Yuri eonni.

“Aku tahu. Tapi kau juga minum alkohol kan?!” Aku tidak mau kalah.

“Sesekali saja. Hanya dalam acara-acara tertentu. Dan aku tidak pernah minum sampai mabuk. Menghabiskan satu botol saja tak pernah” Sungguh konyol. Lelaki yang lebih tua dariku ini tidak pernah menghabiskan satu botol alkohol pun?! Aku hanya tersenyum, merasa menang mungkin?

“Tidak bisakah kau berhenti?” Ayolah, aku tidak mau berdebat masalah yang itu-itu lagi!

“Sudah terlambat. Kalau kau bersikeras mengatakan tidak ada yang terlambat, kau sama seperti Yuri eonni! Karena bagiku, semuanya sudah terlambat!” Kataku to the point. Mengerti kemana arah pembicaraan ini akan berujung. Sedangkan dirinya terkejut, mungkin tak menyangka apa yang akan dikatakannya selanjutnya sudah dapat kutebak.

 

“Kau bisa menurunkanku disini. Terima kasih untuk tumpangannya.” Pintaku saat menyadari kalau ia sudah melewati jalan terdekat menuju apartemenku.

“Temani aku dulu ke satu tempat. Mungkin kau juga akan menyukai tempat itu.” Pintanya sambil tersenyum.

 

*Voiceless*

 

Pantai, batinku. Aku sudah tidak ingat kapan terakhir kali aku mengunjungi tempat ini. Saat keluargaku masih utuh? Sebelum Hyukjun oppa pergi ke Inggris? Atau sebelum Yuri eonni mengikuti training? Atau mungkin, sebelum kecelakaan Hyunjun? Entahlah, aku sudah tidak bisa mengingatnya lagi. Keinginanku untuk menyembur lelaki disampingku terkalahkan dengan keindahan pantai dimalam hari.

“Indah bukan?” Tanyanya sambil menyodorkan sekaleng jus yang entah didapatnya dari mana.

“Hmmh.” Sungguh aku belum pernah melihat pantai saat malam hari.

“Aku baru mengetahui pantai begitu indah pada malam hari saat aku, Chanyeol dan Kyungsoo berjalan-jalan malam selesai latihan. Saat itu kami masih menjadi trainee.” Aku hanya mengangguk-ngangguk. Aku tidak ingat yang mana lelaki bernama Chanyeol dan Kyungsoo itu.

 

Benar-benar malam yang indah. Entah kapan terakhir kalinya aku menyaksikan pemandangan yang begitu indah ini. Selama ini aku hanya menyaksikan malam yang begitu penat dan sesak. Suara keras musik di dalam club dan hiruk pikuk kota. Bukan suara lembut ombak dan semilir angin malam ditepi pantai.

 

“Terima kasih.” Ucapku spontan.

“Untuk?” Dia memandangiku tak mengerti.

“Mengajakku melihat pemandangan yang begitu indah.” Aku terkejut sendiri dengan kata-kata yang baru saja kuucapkan. Mengingat diriku yang biasanya bersikap dingin, terlalu malas untuk sekedar mengucapkan sepatah kata.

“Sama-sama. Terima kasih juga mau menemaniku. Aku berharap kau mau terus menemaniku. Tidak lagi datang ke club, dan menghentikan kebiasaan burukmu itu.” Ia memandangiku dalam-dalam, sorot matanya begitu tulus.

Aku hanya mampu memandangnya dalam diam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Satu hal yang pasti, aku merindukan sorot mata yang tulus.

“Sepertinya Tuhan sedang baik padaku.” Aku hanya menatapnya bingung.

“Hatiku tergerak saat pertama kali aku bertemu denganmu di club. Tak bisa kusembunyikan perasaanku yang membuncah saat aku bertemu denganmu di acar ulang tahun SNSD sunbaenim, ditambah lagi kau adalah adik dari Yuri noona. Lalu saat aku tidak sengaja melihatmu masuk ke club itu, yang membuatku memutuskan untuk mengikutimu. Hingga akhirnya aku bisa bersamamu, seperti sekarang.” Dia berhenti sejenak.

“Aku menyukaimu Yujin-ah. Entah sebagai adik dari Yuri noona atau bukan. Aku menyukaimu.” Untuk beberapa saat kami hanya bertatapan dalam diam. Aku masih menatapnya ketika ia memalingkan wajahnya, memilih pantai dihadapan kami sebagai objek pandangnya sekarang.

Beberapa kali aku mengerjapkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Hingga akhirnya otakku mulai bekerja dengan benar, “Maaf. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Sungguh terima kasih atas perasaan yang tulus itu. Tapi maaf, aku tidak bisa.”

Ia langsung menatapku dengan tatapan sendunya. Menuntut penjelasan lebih dari sorot matanya.

“Aku bukan gadis baik-baik. Kau mungkin bisa menilai dengan seringnya aku datang ke club. Ditambah lagi… aku adalah seorang yang buruk, lebih dari yang pernah kau bayangkan.”  Baru kali ini aku mengatakan tentang keadaanku kepada orang lain, orang yang baru ku kenal. Meski sebenarnya Baekhyun bukanlah sosok baru bagi eonni-ku.

 

*Voiceless*

 

Sebenarnya hal itu adalah sebuah kecelakaan yang membuat diriku menjadi sosok yang begitu buruk. Aku… sudah tidak suci lagi.

Malam sudah sangat larut ketika aku baru pulang dari salah satu game center. Saat itu aku masih sangat berduka atas kepergian Hyunjun. Ditengah perjalanan ada beberapa pria tua yang sedang mabuk menghadangku. Kalah kuat dan kalah jumlah tentunya, hingga semuanya terjadi. Semenjak saat itulah hidupku semakin berantakan.

 

*Voiceless*

 

Dia masih memandangiku tak percaya saat aku membungkukan badanku dan mengucapkan terima kasih. Baru saja aku akan melangkah, tangannya mencengkram erat tanganku.

“Kuantar. Tidak ada penolakkan.” Ucapnya tegas, namun terkesan dingin. Entah mengapa, luka dihati ini kurasakan semakin terbuka lebar.

 

~To Be Continued~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

-ah: Digunakan pada akhiran nama bukan huruf vokal, biasa digunakan pada seseorang yang sudah dekat sekali. (Korea)

Aggashi: Panggilan untuk wanita muda yang dihormati/nona. (Korea)

Eonni: Panggilan untuk perempuan kepada kakak/saudara/perempuan yang lebih tua. (Korea)

Hyung: Panggilan untuk laki-laki kepada kakak/saudara/laki-laki yang lebih tua. (Korea)

Noona: Panggilan untuk laki-laki kepada kakak/saudara/perempuan yang lebih tua. (Korea)

Oppa: Panggilan untuk perempuan kepada kakak/saudara/laki-laki yang lebih tua. (Korea)

Sunbae/-nim: Senior. (Korea)

 

Note’s: Entahlah apakah yang ini masih buat penasaran atau ngga

Next chapter yg lagi-lagi gagal di update tepat waktu hhu maafkan

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

3 thoughts on “Voiceless 3

  1. Pingback: Voiceless | Fiction House

  2. Pingback: Voiceless | Fiction House

  3. Pingback: Voiceless | Fiction House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s