Cappuccino and Chocolate

Cappuccino and Chocolate

 

A Gril  | A Boy

 

Oneshot – 1236 Words || Sad/Comfort || G – T

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

 

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Salju yang cukup tebal pagi itu tak mengehentikan langkah seorang gadis berwajah asia dengan rambut coklat sebahunya. Tangannya menggenggam erat secangkir cappuccino yang masih mengepulkan uap panas, berharap kehangatan dari cappuccino itu dapat menembus menghangatkan hatinya yang dingin. Bukan dingin karena cuaca bersalju diluar, tapi dingin karena kehangatan yang ia miliki selama ini telah hilang.

Langkahnya terhenti didepan sebuah toko pakaian favoritnya. Matanya asik mengamati sesuatu didalam toko itu, tapi pandangannya kosong menerawang jauh dari tempatnya berada sekarang. Beberapa menit kemudian ia tersadar, dan mulai melangkahkan kakinya yang mulai membeku karena dinginnya pagi itu.

 

*Cappuccino and Chocolate*

 

Beberapa tahun ini ia habiskan di Negara yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya, Negara yang tak satupun penduduknya dikenalnya, Negara yang menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa yang ia gunakan selama ini, tapi selama itu pula otaknya masih terus mengingat masa lalunya yang kelam. Masa lalu yang hampir membuatnya melakukan hal-hal diluar akal sehat. Masa lalu yang dirasanya lebih buruk dari mimpi buruk manapun.

 

*Cappuccino and Chocolate*

 

Kini ia sedang duduk disudut sebuah café yang berada tak jauh dari apartemen tempatnya tinggal belakangan ini. Beberapa kali ia berpindah-pindah tempat tinggal semenjak petama kali kakinya menginjak aspal dingin Negara itu, berharap otaknya tak pernah mengingat lagi kejadian kelam di Negaranya terdahulu. Tapi harapan hanyalah harapan, seberapa keras pun ia berusaha melupakan pahitnya masa lalu itu semakin kuat juga ingatannya tentang masa lalu itu muncul. Apapun yang dilakukannya selalu mengingatkannya pada masa lalunya.

Seorang waitress menghampirinya, “Seperti biasa nona?” Kata waitress itu, yang nampaknya sudah hapal betul apa yang akan dipesan gadis itu.

“Ya. Sedikit gula dan cream.” Tambah gadis itu dingin. Waitress itu pun langsung meninggalkan gadis itu tanpa mencatat apa pesanannya, seperti tadi dijelaskan, nampaknya ia sudah hapal betul apa menu kesukaan gadis itu di café ini.

 

Setelah menunggu beberapa saat seorang pria yang tak nampak seperti seorang waiter mengantarkan pesanan gadis itu. “Ini nona, silahkan.” Kata pria itu.

Sadar bukan waitress seperti biasa, yang mengantarkan pesanannya. Gadis itu pun menolehkan kepalanya kepada pria dengan senyuman manis dihadapannya. Dahinya berkerut, menandakan berbagai pertanyaan dalam benaknya.

“Apakah tidak boleh seorang barista yang mengantarkan pesanan anda nona?” Kata pria itu lembut. Gadis itu hanya mengelengkan kepalanya, lalu kembali kekesibukan sebelumnya, memandangi jalanan diluar yang bersalju melalui kaca besar yang berada tepat disamping tempat duduknya.

“Ini, gratis untukmu.” Tambah barista itu lagi sambil menyodorkan sepotong kue coklat dengan hiasan diatasnya yang terbuat dari coklat juga.

Gadis itu hanya menatap kosong si barista dihadapannya. “Terima kasih.” Katanya singkat. Otaknya kembali berputar kemasa lalu. Sepotong kue coklat dihadapannya lagi-lagi mengingatkannya pada masa lalunya yang tak semanis kue coklat dihadapannya. Makanan yang ingin dibencinya itu namun tak bisa. Mengapa? Karena ia begitu menyukai coklat. Sekeras apapun ia berusaha membenci makanan itu, pada akhirnya ia akan tetap menyantap makanan itu. Sama seperti masa lalunya, yang akan selalu datang seberapa kuat pun ia mencoba melupakannya.

 

Barista itu masih begeming disamping tempat dimana gadis itu duduk dan sibuk mengamati jalanan bersalju diluar café. Butuh waktu bebeapa menit untuk membuat gadis itu tersadar bahwa sang barista masih berdiri disana dan mengamatinya. Gadis itu memandangi si barista penuh tanya.

“Boleh aku…” Barista itu tidak melanjutkan kata-katanya, ia hanya menunjuk sofa kosong dihadapan gadis itu.

Setelah berpikir beberapa saat gadis itu menjawabnya dengan anggukan, lalu kembali memandangi jalanan bersalju diluar café itu.

 

Keduanya hanya terduduk dalam diam. Café cukup sepi saat itu, mengingat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Setengah jam lagi café tutup, beberapa waiter dan waitress sudah mulai membereskan café itu. Namun gadis itu tak sedikit pun menyentuh pesanannya, termasuk sepotong kue coklat gratis pemberian si barista.

 

“Sebaiknya kau mulai meminum cappuccino kesukaanmu itu, sebelum minuman panas itu berubah menjadi dingin.” Kata si barista berusaha membuka percakapan. Sementara gadis itu tak menggubrisnya sama sekali.

Hening lagi diantara mereka. Kali ini café benar-benar sudah siap untuk tutup. Saat seorang waitress menghampiri mereka, si barista mengisyaratkan agar membiarkan gadis dihadapannya berada di café itu lebih lama, dan ia mengijinkan karyawan yang lain pulang lebih dulu.

 

“Aku tak tahu apa yang kau rasakan. Aku tak tahu apa yang sudah kau alami. Tapi kau harus menghadapi kenyataan. Kau harus melawan rasa sakit yang sedang kau rasakan. Aku tak bermaksud menguliahimu. Tapi sayang gadis semanis kau hanya dapat duduk termangu seperti itu setiap kau datang kemari.” Barista itu memulai percakapan lagi, matanya menatap kosong segelas cappuccino buatannya yang tak tersentuh sedikitpun. Kali ini gadis itu memberikan sedikit respon dengan memandang barista itu untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali memandang keluar jendela.

 

“Hidup itu seperti cappuccino ini. Jika kau meminumnya tanpa menambahkan apapun kedalamnya akan terasa pahit, tapi setelah kau menambahkan gula dan sedikit cream diatasnya akan terasa begitu manis. Membuatmu menginginkannya lagi dan lagi.” Lanjut barista itu lagi. Kali ini gadis itu mulai menatapnya.

“Lalu soal kue coklat ini. Akan terasa pahit jika kau hanya memakan seratus persen coklat asli. Tapi ketika ditambahkan susu dan gula coklat ini akan terasa manis, sama seperti cappuccino kesukaanmu tadi.” Sambungnya sambil memotong sedikit kue coklat itu dengan garpu yang tersedia, lalu menusuknya dan mengarahkan tangkai garpu itu pada gadis dihadapannya yang menatapnya -tepatnya menatap kue coklat itu- kosong.

 

“Maaf mengganggumu. Sunguh aku tak bermaksud menguliahimu.” Barista itu berhenti sejenak. “Maaf sebelumya. Sungguh aku tak bermaksud mengusirmu… Tapi café ini sudah tutup nona, dan aku harus segera pulang. Kau bisa kembali besok. Aku bisa membungkuskan cappuccino dan kue coklat ini jika kau mau.” Lanjut barista itu sambil beranjak dari tempat duduknya.

Tanpa disangka oleh si barista sebelumnya, gadis itu menahan tangannya. “Aku akan menghabiskannya. Temani aku.” Pintanya dengan suara parau.

Si barista pun menurut dan duduk tepat disamping gadis itu. Perlahan sang gadis mulai menyantap kue coklat dihadapannya, bersamaan dengan itu pula air matanya jatuh. Sang barista terkejut, lalu ia tersenyum. Tampak mengerti akan perasaan gadis dihadapanannya.

 

Setelah menghabiskan kue coklat gratisnya dan segelas cappuccino yang sudah mulai dingin ia pun berpamitan dengan barista itu. “Terima kasih… Untuk segalanya.” Kata gadis itu tulus kepada si barista. Belum pernah ia merasa setenang ini sebelumnya.

Barista itu pun mengangguk dan memberikan sapu tangannya pada gadis itu. “Aku berharap saat kau kembali kesini esok hari kau bisa datang dengan senyummu yang manis.” Katanya sambil tetap tersenyum.

Si gadis mengernyitkan dahinya. Bagaimanan bisa si barista yang baru dilihatnya menilainya seperti itu. Seolah mengerti kebingungan si gadis, barista itu pun melanjutkan. “Semuanya terpeta diwajahmu.”

Gadis itu hanya terpaku dengan perkataan si barista. Ia langsung pamit, tak lupa ia mengucapkan terima kasih lagi. Karena si barista –yang sekaligus pemilik café itu- membiarkannya tak membayar cappuccino pesanannya. “Aku memberikannya cuma-cuma hanya untuk hari ini, kedepannya kau tetap harus membayar.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Ingat besok kau harus datang dengan senyumanmu. Aku tak ingin usahaku hari ini sia-sia. Aku memaksamu. Hahaha.” Katanya lagi diiringi senyuman lebar.

 

“Aku menyukaimu.” Sambungnya ketika si gadis sudah berada tepat didepan pintu café itu, bersiap untuk pulang. Spontan gadis diahadapannya itu berbalik, menatapnya dengan seribu tanya.

“Aku bersungguh-sungguh.” Katanya pada gadis yang sudah berada diambang pintu itu. “Pulanglah. Hati-hati dijalan.” Lanjutnya lagi sambil melambaikan tangan.

Gadis itu pun mulai melangkah meninggalkan café itu. Kali ini bukan langkah lunglai seperti biasanya, tidak dengan wajah yang dingin dan tatapan yang kosong. Tapi langkah yang bernyawa, dengan wajah yang bahagia dan tatapan penuh harap untuk hari esok. Untuk barista dibelakangnya yang -tanpa disadarinya- telah mampu meluluhkan hatinya yang selama ini membeku. Sama seperti cappuccino hangat buatannya, yang sedikit demi sedikit memberikan kehangatan pada tubuhnya yang kedinginan karena terlalu lama berada diluar.

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Note’s: Ga tau gimana bisa tercipta ff alay ini *author lagi gila*

Semoga suka sama ceritanya yg pasaran

Kalo yg ga suka sama cappuccino & choco cake silahkan imagine sama kesukaan kalian 😀

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s