(Not) Only We Know

(Not) Only We Know

 

Gues It!

Kim Joonmyeon | Joonmyeon | Suho (EXO/EXO-K)

 

Drabble – 453 words || Brothership, Comfort, Frinedship, Sad || G – K

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

“Bagaimana kabarmu?” Tanya lelaki disebrang dengan suara beratnya.

“Baik. Tapi perasaanku mungkin tidak.” Sahut lelaki disisi satunya dengan datar.

“Aku baru tahu kau bisa se-dingin ini.” Gurau suara berat di seberang telepon.

Lelaki disis satunya mendecih, “Kau seperti baru mengenalku saja.”

Lelaki disebrang telepon itu hanya tertawa renyah. Lelaki disis satunya termenung, sudah lama rasanya ia tidak mendengar suara tawa itu, tawa yang hanya dimiliki lelaki disebrang tetepon itu.

“Bagaimana yang lainnya?” Sambung lelaki dengan suara berat itu.

“Tidak jauh berbeda denganku.” Sahut lelaki disisi satunya setelah ia meneguk sedikit teh-nya.

“Tapi setidaknya kalian masih bisa tertawa bersama. Itu sudah bagus untuku.” Desah lelaki itu kemudian.

“Kau pikir kami benar-benar tertawa?! Jangan bodoh!” Suaranya meninggi di akhir kalimat.

Sorry.”

Lalu keheningan menggantung.

“Apa kau… sakit hati dengan sikap mereka selama ini?” Tanya lelaki disisi satunya hati-hati.

“Satu sisi iya. Satu sisi tidak.” Hening sejenak, sebelum lelaki disebrang telepon melanjutkan. “Tapi aku mengerti atas segala sikap mereka. Dan… terima kasih untuk tetap menerima panggilanku. Maaf juga untuk beban yang berat.”

“Aku terpaksa, kau tahu?! Lagi pula aku sudah mulai terbiasa sekarang. Dan, dengan begini aku mengerti dirimu lebih.”

Tawa menggema disebrang telepon, “Kau benar-benar pandai sekali berbicara manis rusa.”

“HEI! Hentikan memanggilku dengan sebutan itu!” Lelaki disisi satunya memanas.

“Wow wow wow! Calm down! Calm down! Kau bisa membangunkan satu dorm!” Lelaki disebrang telepon hanya tertawa ringan.

Hening kembali menyelimuti.

“Terima kasih, sungguh. Untuk segala yang telah kau lakukan untuk mereka. Maaf, telah gagal menjadi sahabat baikmu.”

“Well… Kau masih sahabatku. Hanya saja… kini tak lagi dalam posisi yang sama.”

Lelaki disebrang telepon berdeham, tak mampu berkata-kata, lidahnya terlalu kelu. Ternyata rasa sakit dihatinya masih sama dengan setahun lalu. Masih sama dengan ketika ia baru saja pergi dari sana.

“Kurasa pembicaraan ini harus berakhir disini.” Tersirat keengganan dalam kalimatnya.

Lelaki disebrang telepon sedikit terperanjat, “Ah, yeah. Kudengar kalian ada jadwal besok pagi.”

“Kukira kau sudah tiak menjadi stalker kami lagi.” Terselip tawa diakhir kalimat lelaki disisi satunya, tawa lebar yang menenggelamkan matanya.

“Sampai nanti. Terima kasih Lu.”

“Hmmh… Hei!” Lelaki yang dipanggil Lu menggantung kalimatnya sejenak. Keraguan terpeta jelas diwajahnya. “Didi masih mengharapkanmu. Walau dia yang terlihat paling tak membutuhkanmu.”

“Terima kasih Lu.” Ulang lelaki disebrang telepon, lagi-lagi lidahnya terasa kelu.

“Hmmh.” Dan sambungan pun terputus.

Mata Lu menerawang jauh. Sampai sebuah suara –lebih tepatnya bisikkan- menyadarkannya…

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan dengan seseorang disebrang telepon sana… Tapi aku tahu siapa dia… Sampaikan salamku padanya, jika suatu hari nanti dia menghubungimu lagi.” Ada jeda sejenak. “Dan tolong sampaikan juga… Jika aku masih sangat membutuhkannya. Selamat malam Luhan.”

Bahwa ada seseorang yang mendengarkan percakapan yang selalu menjadi rahasianya setahun belakangan ini.

Luhan termenung sejenak. Sebelum akhirnya menyahuti dengan lirih, “Selamat malam Joonmyeon.”

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Note’s: Cerita lama

Ketika naga China itu baru saja pergi, dan sang tilikinesis masih bertahan

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s