Nae Dongsaeng [2 of 2]

Nae Dongsaeng [2 of 2]

1 of 2

 

Choi Siwon | Siwon (Super Junior/Super Junior M), Zhou Mi | Jungmyuk (Super Junior/Super Junior M), Cho Kyuhyun | Kyuhyun (Super Junior/Super Junior M), Choi Seungrin | Seungrin (OC), Oh Sehun | Sehun (EXO/EXO-K), Minrin (OC)

 

Twoshot – 2620 words || Brothership, Drama, Family, Hurt, Romance, Sad || PG-15 – T

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Seungrin hanya mengikuti kemana kakinya membawanya pergi, tanpa tahu arah tujuan. Kepalanya mulai berdenyut ketika ia berusaha mengingat-ngingat masa kecilnya, ketika puluhan pertanyaan memenuhi otaknya.

Bagaimana bisa ketiga oppa-nya itu bersikap seperti mereka tak saling mengenal, sedangkan jelas-jelas mereka adalah kakak-beradik yang begitu dekat dulu? Bagaiman bisa Han ajusshi yang begitu dipercayanya hanya mengatakan mereka adalah pria asing yang melakukan home stay disana? Bagaimana bisa Siwon begitu tenang mengenalkan dirinya, Jungmyuk dan Kyuhyun pada dongsaeng-nya sendiri yang telah lama tak dilihatnya?

Sungguh ia semakin membenci appa-nya, dan kini ia pun mulai membenci ketiga oppa-nya dan Han ajusshi yang sudah dianggapnya seperti pamannya sendiri.

Bisa-bisanya mereka bersikap baik-baik saja ketika tahu didepan matanya ada sosok yang, Seungrin yakin, begitu mereka rindukan selama ini. Bisa-bisanya Han ajusshi yang sangat dipercayainya menyembunyikan semuanya.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Seungrin berhenti disebuah taman yang sepi, dengan penerangan seadanya ia tak tahu dimana itu, ia tak tahu bagaimana dirinya bisa ketempat yang belum pernah didatanginya. Tapi ia tak mempedulikan itu, ia hanya ingin sendirian sekarang.

 

Disisi lain seisi rumah mewah itu begitu panik ketika mengetahui tuan putri mereka tidak ada disana. Ketika para penjaga memberitahu seisi rumah itu kalau tuan putri mereka pergi dengan keadaan kacau balau. Air mata membanjiri pipinya, kejadian yang tak pernah dilihat siapapun dirumah itu mengingat sikap tuan putri mereka yang begitu dingin.

Dengan panik Jungmyuk dan Siwon menuju mobil mereka masing-masing yang terparkir rapih dihalaman rumah mewah itu sambil memerintahkan beberapa supir disana untuk mencari dongsaeng tercintanya itu, sosok yang begitu ingin dipeluknya dengan erat. Tanpa perintah Kyuhyun yang selalu bersikap paling dingin sudah mengemudikan mobil sport hitam-nya dengan kecepatan tinggi menelusuri setiap sudut kota demi mencari dongsaeng-nya itu.

 

Sehun sudah mendengar kabar perginya Seungrin dari rumah dengan keadaan kacau balau dari Minrin. Tanpa pikir panjang ia langsung memacu motor sport biru-nya secepat ia mampu, tak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada gadisnya itu.

Beberapa pelayan, termasuk Minrin, menunggu dengan resah kabar dari tuan putri mereka. Minrin semakin panik ketika mengetahui Seungrin sama sekali tidak membawa ponselnya.

“Dia pasti ditemukan. Dia akan baik-baik saja.” Kata ahjumma saat melihat Minrin yang hampir menangis.

“Sepertinya… dia… mendengar cerita kita… ahjumma.” Kata Minrin terbata-bata. Sedangkan si ahjumma hanya bisa menunduk dalam-dalam, merasa sangat bersalah.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Jungmyuk, Siwon, Kyuhyun dan Sehun memacu kendaraan mereka bak orang kesetanan. Tak peduli dengan bunyi-bunyi klakson dari pengendara lain yang merasa terganggu dengan cara mereka mengemudi. Satu hal sama yang ada diotak mereka kini. Menemukan Seungrin secepat mungkin sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya.

 

Sehun mengehentikan motornya kasar tepat digaris zebra cross ketika lampu berubah merah. Ia hampir saja menerobos rambu-rambu lalu lintas mengingat Seungrin-nya yang pergi begitu saja dengan keadaan kacau. Ia tahu betul gadisnya tidak semudah itu menangis. Gadisnya tak pernah begini sebelumnya. Gadisnya itu gadis terkuat yang pernah ia temui.

Saat itu matanya mulai menjelajah setiap sudut yang mampu ditangkap penglihatannya. Matanya menyipit agar dapat melihat lebih jauh. Disana, ditaman itu, dalam penerangan seadanya, matanya menangkap sesuatu. Begitu lampu berubah hijau ia langsung menancap gas dan mengarahkan motornya menuju taman itu.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Sehun bersimpuh didepan sosok gadis yang membuatnya kehilangan hampir seluruh akal sehatnya demi menemukannya. Dilihatnya gadis itu tertunduk dalam, menangis dalam diam. Direngkuhnya, membenamkan kepala gadis itu kedada bidangnya, berharap rasa sakit yang dirasakannya dapat tersalurkan pada dirinya.

 

Sungguh Sehun tak pernah melihat Seungrin menangis seperti ini, dari sejak awal mereka bertemu lima tahun yang lalu. Hatinya begitu sakit saat melihat Seungrin yang begitu berantakan dengan air mata mengalir deras dipipinya yang mulus. Ia masih tak mengerti mengapa gadisnya itu kacau balau seperti ini. Tapi ia tak berniat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mulai memenuhi otaknya sekarang.

Disudut lain seorang pria jangkung duduk didalam mobil sport hitam miliknya, mengamati sepasang makhluk Tuhan dihadapannya. Hatinya mulai tenang ketika melihat dongsaeng kesayangannya itu sudah ditemukan oleh orang yang dirasanya tepat. Ia pun memutar mobilnya, kembali kerumah dengan perasaan cukup tenang.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Setelah tangis gadisnya itu reda, Sehun mencoba membujuknya untuk tak berlama-lama disana. Mengingat langit sudah berubah menjadi begitu gelap.

“Ayo ikut aku.” Ajak Sehun lembut sambil menuntun gadisnya itu menuju motor sport biru-nya.

 

Wajah Seungrin dipenuhi pertanyaan saat ia menyadari Sehun menghentikan motornya didepan sebuah hotel bintang lima.

“Kau beristirahat disini dulu saja, pesan saja kamar manapun atas namaku. Aku akan memberi tahu orang rumahmu kalau kau baik-baik saja dan mereka tidak perlu mencarimu. Nanti aku akan kesini lagi membawa pakaianmu.” Jelas Sehun dengan tenang. Yang diperintah hanya mengangguk lesu dan langsung masuk kedalam hotel berbintang itu.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Kyuhyun tiba dirumah paling pertama. Minrin buru-buru menghampiri doryeonim-nya itu.

“Dia baik-baik saja. Dia butuh sendiri. Dia sudah bersama orang yang tepat.” Jawab Kyuhyun datar begitu Minrin berdiri dihadapannya.

Seluruh pelayan rumah itu menghela napas lega mendengar pernyataan Kyuhyun. Mereka tahu pasti dengan siapa Seungrin sekarang, mereka juga tahu tak lama lagi orang yang dimaksud akan memberi mereka kabar.

“Beritahu yang lain kabar aggashi dan suruh mereka untuk cepat pulang.” Kata ahjumma kepada pelayan yang lain. Saat itu juga ponsel Minrin berdering, tertera nama Oh Sehun dilayarnya.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Seungrin memesan sebuah kamar standard yang hanya memiliki single bed, meja makan kecil dengan dua buah kursi, lemari pakaian, meja rias, dan sebuah tv yg menempel di dinding kamar hotel itu. Ia langsung menghempaskan tubuhnya kasar keatas kasur dengan berseprai putih. Matanya menatap kosong langit-langit kamar itu. Air matanya sudah mengering, namun luka dihatinya masih terbuka lebar. Percakapan ahjumma dan Minrin terus terngiang-ngiang.

Ingin sekali dirinya berteriak sekencang mungkin pada appa dan ketiga pria yang baru saja diketahuinya sebagai oppa-nya. Ingin rasanya mengusir seluruh penghuni ruma mewah itu pergi jauh agar dirinya bisa menikmati kesendiriannya disana.

 

Kepalanya kembali berdenyut-denyut ketika ia mulai mencoba mengingat kejadian-kejadian saat dirinya baru berumur empat tahun dan sebelum itu. Ia meringkuk, menarik seprai putih itu, jeritannya tertahan saat kepalanya tak henti-hentinya berdenyut dan hatinya serasa semakin hancur.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Sehun tiba dihotel berbintang lima itu setelah membawakan beberapa pakaian Seungrin yang dikemas Minrin. Seluruh petugas hotel itu menyapanya ramah.

“Kamar berapa yang dipesannya?” Tanya Sehun pada salah satu resepsionis.

Seakan mengerti akan maksud Sehun pelayan itu menyebutkan kamar yang baru saja dipesan Seungrin. Setelah itu Sehun bergegas menuju kamar itu dengan sebuah master card ditangannya.

Dengan hati-hati Sehun masuk kekamar itu menggunakan master card yang tadi diberikan resepsionis di lobi hotel mewah itu.

Sehun adalah anak dari pemilik hotel itu, sehingga ia bisa mendapatkan akses untuk menggunakan master card dengan mudah.

Dilihatnya Seungrin yang tertidur meringkung disatu-satunya tempat tidur yang ada disana. Wajahnya terlihat begiu lelah. Hati Sehun sakit ketika mengingat gadisnya yang terlihat begitu terpuruk.

Cukup lama Sehun tinggal dikamar itu, memandangi gadisnya lekat-lekat. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memesan kamar tepat disebelah kamar gadisnya.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Seungrin terbangun dengan tubuh yang tertutup selimut. Ia tak ingat kapan dirinya menarik selimut, yang ia ingat ia hanya terbaring dengan posisi meringkuk. Tapi ia mengerti ketika melihat sebuah koper kecil berada tak jauh dari tempat tidurnya. “Se… hun…” Ucapnya parau.

Tak lama terdengar suara seseorang membunyikan bel kamarnya. Dengan langkah gontai ia menghampiri pintu coklat besar itu. Membukanya perlahan.

Sehun kini berada dihadapannya, dengan seorang pelayan yang membawa sebuah troli “Kau sudah bangun ternyata. Ayo kita sarapan!” Ajak Sehun dengan senyum lembut. Ia merangkul gadisnya masuk, pelayan yang tadi disampingnya ikut masuk. Meletakan beberapa nampan yang dibawanya dalam troli keatas meja makan kecil yang ada dikamar itu.

Ada beberapa potong sandwich, roti baguette, dua mangkuk cream soup, dua gelas air mineral, dua gelas strawberry juice dan dua gelas susu coklat hangat. Semuanya adalah –salah satu- menu favorit keduanya.

“Ayo makan! Kau kan belum makan dari tadi malam.” Kata Sehun sambil menyodorkan sepotong sandwich. Seungrin menggigit sandwich itu tanpa nafsu sama sekali. Sehun sedih melihat gadisnya yang tak bersemangat sama sekali itu, namun ia sedikit bersyukur karena setidaknya gadis itu masih mau memakan sandwich yang diberikannya.

Mereka berdua makan dalam diam. Tak ada celotehan yang biasa keluar dari mulut keduanya saat mereka sedang bersama. Sehun sudah mengerti sekarang kenapa gadisnya bersikap seperti itu, Minrin menceritakan semuanya padanya semalam. Ia mencoba memahami rasa sakit yang dirasakan gadis dihadapannya.

Sehun tak habis pikir, sungguh tega Choi sajang pada putri satu-satunya itu. Keluarga Sehun juga keluarga yang bergelimangan harta, tapi ia masih memiliki kasih sayang yang dirasanya cukup dari orang tua dan hyung satu-satunya. Appa-nya juga sangat sibuk, tapi setidaknya masih sempat memikirkannya, eomma-nya dan hyung-nya yang kini sedang kuliah di Inggris.

Setelah selesai sarapan Seungrin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sehun keluar dari kamar itu, kembali kekamarnya untuk mandi juga.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Sehun mau mencoba membujuk Seungrin kali ini agar gadis itu mau pulang. Ia tak mungkin membiarkan gadis itu terus menerus tinggal dihotel. Bukan ia tak mau rugi karena gadis itu tinggal gratis disana, tapi ia tak mau menjerumuskan gadis itu dengan membiarkannya terus menghindari kenyataan yang ia tahu sangat pahit itu.

“Seungrin-ah. Ayo kita pulang!” Ajak Sehun sehalus mungkin. Sedangkan Seungrin tak menggubrisnya sama sekali.

“Rin…” Ajak Sehun lagi.

“… Aku tidak punya keluarga. Untuk apa aku pulang Hun?” Suara Seungrin tercekat.

DEG

Hatinya mencelos mendengar perkataan gadisnya itu. Ia tak tahu harus berkata apa. Hingga untuk kesekian kalinya mereka hanya duduk dalam diam. Sehun berpikir keras bagaimana caranya menyembuhkan luka hati gadisnya itu, dan agar gadis itu dapat dibawanya pulang. Sedangkan Seungrin hanya memandang kosong lantai kayu dibawahnya.

 

Dua jam berlalu, dan mereka masih duduk dalam diam. Sehun akhirnya memutuskan tetap akan membawa gadis itu pulang. Tak peduli sekeras apapun gadis itu menolak.

“Ayo Rin! Kita tak bisa berlama-lama disini! Kau tak mau kan orang-orang berpikiran buruk tentangmu?!” Bujuk Sehun.

“… Biar saja!” Jawab Seungrin tidak peduli, matanya masih menatap kosong lantai kayu itu.

“Ayo Rin! Kenapa kau seperti anak kecil sekarang?!” Sehun mulai geram dengan sikap acuh dan kekanak-kanakan itu.

Seungrin menundukan kepalanya dalam-dalam. Sehun langsung merengkuh gadisnya dalam pelukannya, mencoba memberikan ketenangan. Lagi, gadisnya itu menangis dalam diam. Sehun terdiam, sebelah tangannya mengusap-ngusap lembut punggung gadis yang begitu dicintainya.

 

Tak lama Seungrin hanya mampu menurut ketika Sehun membawanya keluar dari hotel itu, menaiki motor sport biru-nya dan kembali ke rumah yang tak ingin didatanginya lagi. Mengingat begitu banyak orang-orang yang dibencinya berada disana.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Sehun terus menuntun gadis itu masuk kerumah mewah itu. Para penjaga hanya menundukan badannya dan membiarkan mereka lewat begitu saja. Didalam rumah Minrin langsung menyambut aggashi-nya dengan perasaan bersyukur karena ia baik-baik saja walau terlihat -sangat- kacau.

Tanpa mengatakan apapun Seungrin melengos pergi menuju kamarnya dilantai dua. Sehun hanya memandangi punggung gadisnya sedih, begitu juga dengan Minrin. Dari arah ruang makan terlihat Siwon dan Kyuhyun berjalan menghampiri Sehun.

“Terima kasih telah menjaganya. Terima kasih juga karena selalu ada untukknya.” Ucap Siwon tulus.

“Tidak masalah. Eung… Siwon-ssi?” Kata Sehun canggung.

“Kau boleh memanggil kami hyung.” Kata Siwon ramah.

“Ah. Nae.” Sehun lalu berpamitan pulang.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Jungmyuk yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat kedatangan dongsaeng-nya, ia merasa senang dan bersyukur dongsaeng-nya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Walau, yah, terlihat kacau.

“Terima kasih ku untuk Sehun yang telah menjaga dongsaeng-ku ini dengan baik.” Kata Jungmyuk yang membuat Seungrin mendongakkan kepala dan menatapnya dingin sebelum ia masuk ke kamarnya.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Makan malam berlangsung dengan begitu hening. Tak ada sosok Seungrin disana. Tapi ada Choi sajang yang duduk dikursi yang berada diujung meja makan itu.

“Mana Seungrin?” Tanyanya dengan suara berat.

Aggashi tidak mau turun sajangnim. Jadi kami membawakan makanan kekamarnya. Minrin yang menemaninya.” Jelas Han ajusshi.

“Tidak sopan! Ada tamu tapi malah makan sendirian dikamar.” Ada emosi didalam suaranya.

“Biar saja. Toh ini semua karenamu.” Kata Kyuhyun dingin.

Ya! Kyuhyun!” Sentak Siwon, tak suka dengan kelakuan tidak sopan adiknya.

“Kenyataan hyung!” Katanya kesal lalu pergi berlalu meninggalkan meja makan.

“Mengapa kau bersikap tidak sopan setelah sekian lama aku menyekolahkanmu di sekolah elit huh?!” Choi sajang begitu emosi ketika salah satu anak lelakinya itu meninggalkan meja makan begitu saja, tak ada sopan santun.

“Anda membuat saya seperti ini sajangnim! Anda menghancurkan anak-anak anda sendiri sajangnim! Apakah anda tidak sadar juga setelah apa yang terjadi pada Seungrin, putri anda satu-satunya! Dia putri yang begitu diinginkan eomma dan anda memperlakukannya begini?! Eomma pasti begitu sedih disana!” Erang Kyuhyun. Ia sudah muak dengan kelakuan appa-nya selama ini.

“Kau!” Bentak Choi sajang. Emosi sudah sangat menguasai dirinya.

“Kau ingin memukulku? Pukul saja aku!” Potong Kyuhyun menantang saat tangan appa-nya sudah berada diudara siap menampar wajah mulusnya.

“Anda harus tenang tuan. Kalau tidak penyakit anda akan kambuh lagi.” Han ajusshi mengingatkan sajangnim-nya yang memiliki penyakit darah tinggi yang bisa kumat kapan saja dan berakibat fatal kalau ia begitu emosi.

“Anak kurang ajar! Tidak tahu diuntung!” Bentaknya lagi pada Kyuhyun yang kini sedang menaiki tangga dengan kesal.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Dilantai atas Kyuhyun melihat pintu kamar Seungrin yang sedikit terbuka. Ia melihat kedalamnya, mencari tahu apakah dongsaeng-nya itu baik-baik saja. Sejak kembali kerumah itu Seungrin tidak pernah meninggalkan kamarnya selain untuk kekamar mandi. Sehun selalu mengunjunginya, tapi tak ada perubahan apapun. Tak ada satupun dari mereka –Jungmyuk, Siwon maupun Kyuhyun- yang mencoba menghampri dongsaeng-nya itu.

 

Setiap kali waktu makan Minrin akan mengantarkan makanannya dan menemani Seungrin dikamarnya. Walaupun begitu ia tak pernah menghabiskan makanannya, sekalipun itu makanan favoritnya.

Seungrin berubah drastis setelah malam itu. Semuanya merindukan sosok Seungrin yang dulu. Terutama ketiga oppa-nya. Karena seingat mereka, dulu Seungrin adalah gadis ceria yang penuh semangat. Hati mereka begitu sakit melihat keadaan Seungrin yang sekarang.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Kali ini Siwon, Jungmyuk dan Kyuhyun memberanikan diri masuk ke kamar Seungrin. Mencoba berbicara dengan dongsaeng yang begitu lama mereka rindukan.

“Seungrin-ah. Kami masuk ya.” Kata Jungmyuk sesaat setelah mengetuk pintu kamar dongsaeng-nya itu.

Dibukanya perlahan pintu yang sudah sedikit terbuka itu. Dilihatnya gadis yang telah sekian lama tak ditemuinya sedang duduk didekat jendela. Dihampirinya gadis itu. Ada rasa canggung diantara mereka. Sedangkan Seungrin tak bergeming, tetap memandang kosong keluar jendela.

“Kami ingin bebicara denganmu. Kau tahu, kami amat sangat meindukanmu?!” Jungmyuk mencoba membuka pembicaraan.

“…” Tak ada respon dari Seungrin. Hening lagi diantara mereka.

 

“Maaf telah membiarkanmu sendirian selama ini.” Siwon kini mencoba memecah keheningan diantara mereka.

Seungrin menghela napas berat. “Kalau kalian merindukanku kenapa dulu kalian tak berusaha menemuiku? Mengapa dulu kalian tak berusaha mencariku? Kenapa saat kalian datang kalian bersikap begitu dingin padaku? Kenapa kalian bersikap seolah-olah kalian tak mengenalku? Aku tak dapat mengingat kalian karena kecelakaan itu! Tapi kenapa kalian yang jelas-jelas mengingatku bersikap seolah-olah kalian tak mengenalku?!” Suara Seungrin bergetar. Ia menahan emosinya yang siap meledak kapan saja, air mata menggenangi pelupuk matanya.

“Kami tak tahu itu kau!” Ucap Kyuhyun dingin. “Tak ada yang mengatakan pada kami kalau kau Seungrin tuan putri kecil kami yang begitu lama kami rindukan! Tak ada yang membantu kami menemukanmu setelah kecelakaan itu!”Suaranya meninggi.

Seungrin membalikan badannya, mencoba mencari kebohongan di mata Kyuhyun. Tapi mata pria itu tak menyorotkan kebohongan sedikitpun. Air mata yang sedari tadi dibendungnya kini mulai mengaliri pipinya yang putih mulus.

“Semuanya mengatakan tak tahu dimana kau berada setelah kecelakaan itu. Mereka mengatakan kau menghilang setelah kecelakaan itu. Kami berusaha mencarimu seperti orang gila. Tapi hasilnya selalu nihil.” Siwon menjelaskan setenang mungkin.

“Kami baru tahu kau adalah tuan putri kami yang selama ini kami cari hari itu. Hari disaat kau berlari tak tentu arah meninggalkan rumah ini.” Lanjutnya lagi.

Seungrin hanya melongo tak percaya. Air mata masih mengalir membasahi pipinya. Dengan sekali sentakan Kyuhyun menariknya kedalam pelukannya, membiarkan bajunya basah karena air mata dongsaeng-nya itu. Sementara Seungrin menangis dalam diam disana, tak membalas sedikitpun pelukan hangat yang diberikan Kyuhyun.

 

Gadis itu menangis hingga ia tertidur. Kyuhyun membaringkannya diranjang besar yang selama ini menjadi tempat tidur gadis dalam pelukannya itu. Saat ia hendak keluar dari kamar, tangan kecil itu menggenggam lengan kekarnya. Dalam tidurnya gadis itu jelas-jelas enggan ditinggal sendirian. Kyuhyun memutuskan untuk berbaring disamping dongsaeng satu-satunya itu sambil memeluknya. Sedangkan Siwon dan Junmyuk memutuskan keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar perlahan, takut membangunkan putri kecil yang telah menjelema menjadi putri cantik.

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

-ah: Digunakan pada akhiran nama bukan huruf vokal, biasa digunakan pada seseorang yang sudah dekat sekali. (Korea)

-ssi: Digunakan pada akhiran nama, biasa digunakan pada seseorang yang baru dikenal, menunjukkan kesopanan. (Korea)

Aggashi: Panggilan untuk wanita muda yang dihormati/nona. (Korea)

Ahjumma: Panggilan untuk wanita tua/bibi. (Korea)

Appa: Ayah, untuk perempuan. (Korea)

Ajusshi: Panggilan untuk pria tua/paman. (Korea)

Dongsaeng: Adik. (Korea)

Eomma: Ibu, untuk perempuan. (Korea)

Home stay: Tinggal bersama orang asing dari negara lain. (Inggris)

Hyung: Panggilan untuk laki-laki kepada kakak/saudara/laki-laki yang lebih tua. (Korea)

Oppa: Panggilan untuk perempuan kepada kakak/saudara/laki-laki yang lebih tua. (Korea)

Sajang/Sajangnim: Seseorang yang dihormati/tuan. (Korea)

 

Note’s: Dan tulisan nista ini berakhir

Maafkan untuk ending yang gaje bin garing

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s