Nae Dongsaeng [1 of 2]

Nae Dongsaeng [1 of 2]

 

Choi Siwon | Siwon (Super Junior/Super Junior M), Zhou Mi | Jungmyuk (Super Junior/Super Junior M), Cho Kyuhyun | Kyuhyun (Super Junior/Super Junior M), Choi Seungrin | Seungrin (OC), Oh Sehun | Sehun (EXO/EXO-K), Minrin (OC)

 

Twoshot – 1655 words || Drama, Family, Hurt, Romance, Sad || PG-15 – T

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Aku baru saja membuka pintu kamarku yang berada dilantai dua ketika aku mendengar ada suara pria yang belum pernah kudengar sebelumnya. Hanya satu dari beberapa suara pria dilantai bawah sana yang kukenal, suara Han ajusshi, kepala pelayan rumah kami.

Saat aku sudah menginjakan kakiku dilantai bawah, ada empat pasang mata yang mengamatiku seksama. Sepasang mata diantaranya adalah mata Han ajusshi.

“Ah… Aggashi sudah bangun rupanya. Selamat pagi” Sapanya dengan suara lembutnya yang khas.

“Hmmh.” Jawabku singkat sambil berlalu. Tak ingin mencari tahu siapa ketiga pria jangkung yang berdiri dihadapannya sambil mengamatiku dalam-dalam itu. Aku hanya berasumsi bahwa ketiga pria itu adalah rekan bisnis appa, walau mereka terbilang sangat muda.

 

Aku, Choi Seungrin. Anak tunggal dari keluarga Choi. Eomma-ku sudah meninggal saat aku baru berumur dua hari, komplikasi saat melahirkanku katanya. Sedangkan appa-ku selalu sibuk dengan bisnisnya. Entah benar-benar sibuk dengan bisnisnya atau ingin menjauh dariku yang telah merenggut cinta sejatinya itu. Hidupku bergelimangan materi, tapi cinta dan kasih sayang tidak pernah kudapatkan selain dari Han ajusshi –kepala rumah tangga rumah ini- dan pelayan-pelayan lainnya, diantaranya Minrin eonni, anak Han ajusshi. Tapi tentu saja rasanya berbeda.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 malam, itu berarti waktunya untuk makan malam. Saat Seungrin baru turun dari kamarnya ia melihat ketiga pria yang tadi pagi dilihatnya berjalan santai menuju ruang makan rumahnya, tempat yang sama yang dituju olehnya.

Seungrin hanya terdiam saat melihat ketiga pria itu duduk dikursi kosong dihadapannya. Hanya ada diam diantara mereka, tak ada satupun diantara mereka yang ingin memulai pembicaraan nampaknya. Keadaan ini terus berlangsung hingga makan malam selesai.

“Namamu Seungrin kan?” Kata salah seorang diantara ketiga pria itu. Tingginya sekitar 180 sentimeter, rambut hitamnya tertata rapi, tubuhnya atletis, kulitnya putih mulus. Fisik yang sempurna, tapi tidak menarik minat Seungrin sama sekali. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pria jangkung yang duduk tepat dihadapannya.

“Kau cantik sekali, sama seperti eomma-mu kuyakin.” Tambah pria jangkung itu lagi.

“Terima kasih.” Jawab gadis itu datar atas pujiannya. Sungguh ia bosan mendengar perkataan itu dari setiap rekan kerja appa-nya ataupun anggota keluarganya yang sesekali datang mengunjunginya. Ia pun merasa agak kesal, mungkin lebih tepatnya iri, karena hanya dirinyalah yang tidak tahu eomma-nya. Ia hanya dapat melihat sosok eomma-nya melalui foto-foto besar yang terpampang dibeberapa ruangan rumah itu.

“Ah, perkenalkan. Aku Siwon, ini Jungmyuk hyung.” Lanjut pria jangkung bertubuh atletis itu seraya menunjuk pria disebelah kananya, yang lebih jangkung darinya. “Yang ini Kyuhyun, yang paling muda diantara kami.” Tambahnya lagi saat menunjuk pria dengan wajah dingin disamping kirinya sambil tersenyum.

Eoh. Bangapseumnida.” Jawab Seungrin seadanya sambil sedikit membungkuk.

“Mereka akan tinggal disini untuk waktu yang lama aggashi. Home stay.” Kata Han ajusshi ketika Seungrin baru akan mengajukan pertanyaan mengapa mereka masih berada di rumah ini.

“Hmmh.” Jawab Seungrin –lagi- singkat. Gadis itu membungkukan sedikit badannnya sebelum akhirnya ia meninggalkan ruang makan. Sungguh ia tak suka dengan kehadiran orang asing dirumahnya, apalagi untuk waktu yang lama. Hanya satu pria yang dapat diterimanya masuk dan tinggal berlama-lama dirumah itu.

 

*Nae Dongsaeng*

 

“Hun…” Ucap Seungrin manja pada lelaki jangkung berkulit seputih susu disampingnya. Keduanya sedang duduk diatas pasir pantai sambil menikmati langit yang berubah kemerahan menandakan sebentar lagi mentari akan kembali keperaduannya.

“Apa?” Jawab lelaki disamping Seungrin, tangannya mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

“Kau tahu ada pria yang tinggal dirumahku?” Tanya Seungrin, kepalanya bersandar didada bidang lelaki itu.

“Hmmh. Minrin noona meberitahukannya padaku sesaat setelah ketiga pria itu datang.” Tangannya masih berada dipuncak kepala gadis yang tengah bersandar padanya itu.

“Kau senang?” Tambahnya lagi.

“Kau tahu kan. Hanya kau tamu yang bisa kuterima Oh Sehun!” Seungrin sedikit kesal dengan pertanyaan yang sebenarnya tak perlu ditanyakan lelaki yang dipangil Sehun itu, karena dia sudah sangat tahu jawabannya. Sedangkan Sehun hanya terkikik, senang melihat gadis disampingnya itu merasa kesal.

Nae nae, arasseo.” Sahut Sehun lembut.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Air muka Seungrin berubah seketika saat ia baru saja masuk kedalam rumah mewah itu. Appa-nya berada disana, asik bercengkrama dengan tiga pria asing yang sejak kemarin menjadi penghuni baru rumah itu.

Seungrin membenci appa-nya. Pria yang tidak pernah memperhatikannya, pria yang selalu sibuk dengan bisnisnya sampai-sampai nampaknya lupa kalau ia memiliki seorang putri yang cantik yang selalu dielu-elukan banyak orang. Yang membuatnya lebih benci lagi, appa-nya terlihat begitu akrab dengan ketiga pria yang entah siapa mereka dan darimana mereka berasal.

Seungrin langsung menaiki tangga menuju kamarnya dilantai dua tanpa sedikitpun member salam pada appa-nya dan ketiga pria yang sedang asik bercengkrama itu. Seolah tak melihat kehadiran putrinya, Choi sajang hanya membiarkan Seungrin melenggang dengan langkah kesal begitu saja menuju kamarnya.

 

*Nae Dongsaeng*

 

“Aku bosan Hun.” Kata Seungrin ketika mereka baru saja meninggalkan kelas.

“Kau mau kemana?” Tanya Sehun dengan lembut.

“Aku bosan. Aku tidak mau pulang.” Pernyataan Seungrin tidak mengejutkan Sehun sama sekali. Lelaki itu tahu benar ketika ketenangan gadis disampingnya itu terusik, ia tidak ingin berada ditempat dimana ia tak bisa menikmati ketenangannya lagi.

“Lalu kau mau kemana? Aku tak mungkin membawamu pulang kerumahku.” Jelas Sehun enteng, tersirat sedikit candaan disana.

“Aku tahu pabo! Kemana saja. Asal tak kerumah.” Sehun tersenyum jahil dan hanya bisa menghela napas. Bukannya ia tak mau membujuk gadis itu agar mau pulang. Tapi percuma membujuk gadis yang amat sangat keras kepala itu.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Seungrin tertidur dipangkuan Sehun, lelaki itu membawanya kesebuah taman yang jarang dikunjungi orang. Tipe tempat yang disukai Seungrin.

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ia ingin sekali membangunkan gadis yang tengah tertidur dipangkuannya itu, tapi melihat wajah damainya ia sungguh tak tega

Tepat pukul sepuluh Seungrin terbangun, taman terlihat begitu gelap. Ia melirik kearah lelaki yang sedari tadi kakinya ia pergunakan sebagai bantal alas tidurnya, lelaki itu tertidur pulas. Wajahnya begitu damai, sangat disukai Seungrin, walau ada sedikit gurat kelelahan disana yang membuatnya sedikit merasa bersalah.

 

Sehun membuka matanya, ia terkejut melihat gadis yang tadi tertidur dipangkuannya kini tengah memandanginya dalam-dalam, begitu juga dengan gadis itu.

“Ayo pulang!” Ajak Sehun sambil tersenyum manis. Gadis disampingnya itu hanya tertunduk, tidak mengiyakan ataupun menolak ajakannya. Sehun tahu gadis itu enggan sekali untuk pulang. Tapi tak mungkin pula dirinya membawa gadis itu bersamanya hingga esok. Ia bisa kena amuk Minrin karenanya, asal tahu saja Minrin sudah seperti eommaeomma lain yang begitu cerewet.

Saat tiba didepan rumah, Seungrin langsung turun dari motor sport merah milik Sehun dengan enggan. Ia masih ingin bersama lelaki itu, sungguh ia tak ingin pulang. Sehun menarik Seungrin kedalam pelukannya, membuat gadis itu sedikit terkejut sebeum akhirnya membalas pelukannya.

“Masuklah. Diluar dingin. Aku pulang dulu.” Kata Sehun seraya melepaskan pelukan hangatnya.

Nae. Hati-hati.” Timpal Seungrin lesu.

 

*Nae Dongsaeng*

 

Hari-hari begitu membosankan bagi Seungrin ketika ketiga pria itu mulai asik berlama-lama dirumah mewah tempatnya tinggal. Han ajusshi dan seluruh pelayan dirumah itu tetap berperilaku seperti biasa pada Seungrin. Namun yang membuatnya tak suka –iri mungkin- mereka juga berperilaku sama pada tiga pria yang tidak dikenalnya sama sekali. Mereka semua berperilaku seolah-olah ketiga pria itu adalah bagian dari rumah itu yang begitu lama mereka rindukan. Membuat Seungrin sungguh tak mengerti, membuatnya… cemburu?!

 

*Nae Dongsaeng*

 

Sore itu Seungrin berniat pergi menemui Sehun, saat itu sudah pukul lima sore. Tapi menurutnya itu tak masalah untuk sekedar mengajak lelaki itu berjalan-jalan ditaman kota atau menikmati segelas coklat hangat di café tak jauh dari sekolah mereka. Saat ia hendak mencari Han ajusshi untuk memberi tahu bahwa ia akan pergi –ini sudah menjadi semacam kebiasaannya sejak terakhir kali ia pergi tanpa pamit dan menggemparkan seisi rumah, bahkan appa-nya sampai memarahinya habis-habisan- tak sengaja dirinya mendengar percakapan Minrin dengan seorang wanita paruh baya yang sudah lama bekerja untuk keluarga Choi.

“Benarkah ahjumma? Ahjumma tidak bercandakan? ”Suara Minrin berbisik.

“Tentu saja. Aku sudah bekerja untuk keluarga ini puluhan tahun Minrin sayang. Mereka adalah bagian dari keluarga ini yang sudah begitu lama pergi. Choi sajangnim mewajibkan mereka untuk sekolah diluar negeri dan menjadi penerusnya mengurus perusahaan-perusahaanya diluar sana.” Seungrin terperangah ketika mendengar pernyataan wanita paruh baya itu. Tapi ia belum yakin pada apa yang baru saja didengarnya itu. Ia memutuskan untuk terus mendengarkan pembicaraan diantara kedua pelayan itu.

“Tapi kenapa Seungrin tidak mengingatnya?” Tanya Minrin penasaran.

Aggashi mengalami kecelakaan saat ia berumur empat tahun. Saat itu aggashi dan appa-mu berniat untuk mengunjungi ketiga doryeonim yang sedang bersekolah di Finlandia. Sesaat setelah mereka meninggalkan bandara. Mobil yang ditumpangi aggashi dan appa-mu tertabrak truk container dari belakang. Appa-mu yang berada didepan tidak terluka separah aggashi yang duduk sendirian dikursi belakang. Aggashi mengalami pendarahan hebat, selain itu shock yang dialaminya membuatnya kehilangan ingatan masa kecilnya.” Jelas ahjumma itu lagi.

“Memangnya tidak ada yang berusaha membuatnya ingat mengenai ketiga oppa-nya?” Minrin masih penasaran.

Sajangnim melarang kami semua, ia begitu marah ketika mengetahui appa-mu dan aggashi pergi mengunjungi ketiga doryeonim. Ia takut doryeonim akan terganggu sekolahnya kalau sampai dongsaeng mereka datang kesana. Asal kau tahu aggashi dan ketiga doryeonim begitu dekat, mereka sangat sulit dipisahkan. Sajangnim sangat terobsesi dengan perusahaannya hingga dengan tega ia memisahkan aggashi kecil dengan ketiga oppa kesayangannya itu.”

“Sebegitunya-kah sajangnim pada perusahaan. Sehinga mengorbankan anak-anaknya?”

“Hhh. Sungguh miris memang ketika aku melihat aggashi yang dulu begitu dekat dengan ketiga doryeonim tapi kini saat mereka kembali ia bersikap begitu dingin seperti sikapnya pada orang-orang asing lainnya.”

Ahjumma… Apa yang harus kita lakukan?”

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap aggashi cepat ingat mengenai ketiga doryeonim.”

 

*Nae Dongsaeng*

 

Seluruh tubuh Seungrin bergetar hebat saat mendengr cerita ahjumma itu. Jungmyuk, Siwon dan Kyuhyun adalah oppa-nya? Bagaimana bisa ia tak tahu? Mengapa tak pernah ia melihat foto ketiga oppa-nya itu dirumah ini? Semua yang terpampang hanya foto orang tuanya dan dirinya saja. Bagaimana perasaan ketiga oppa-nya itu saat melihat tak ada satupun foto mereka yang terpampang dirumah mereka sendiri?

 

Seungrin berlari sekencang mungkin meninggalkan rumah itu. Tak menghiraukan panggilan-panggilan dari penjaga rumahnya. Pikirannya kacau, hatinya begitu sakit mendengar pernyataan salah satu pelayan setia keluarganya.

Bagaimana mungkin ia bisa tidak mengetahui cerita masa lalunya?

Ya, Seungrin memang tidak bisa mengingat dengan jelas masa kecilnya. Ia hanya berpikir hal itu terjadi karena dirinya masih begitu kecil saat itu, ia tak menyangka kalau semuanya dikarenakan kehilangan ingatan saat mengalami kecelakaan tragis.

 

~Continue~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

Aggashi: Panggilan untuk wanita muda yang dihormati/nona. (Korea)

Ahjumma: Panggilan untuk wanita tua/bibi. (Korea)

Ajusshi: Panggilan untuk pria tua/paman. (Korea)

Appa: Ayah, untuk perempuan. (Korea)

Ara: Aku tahu. Dari asal kata arraseo. (Korea)

Bangapseumnida: Salam kenal. (Korea)

Dongsaeng: Adik. (Korea)

Doryeonim: Panggilan untuk pria muda yang dihormati/tuan muda. (Korea)

Eomma: Ibu, untuk perempuan. (Korea)

Eonni: Panggilan untuk perempuan kepada kakak/saudara/perempuan yang lebih tua. (Korea)

Home stay: Tinggal bersama orang asing dari negara lain. (Inggris)

Hyung: Panggilan untuk laki-laki kepada kakak/saudara/laki-laki yang lebih tua. (Korea)

Nae: Iya. (Korea)

Noona: Panggilan untuk laki-laki kepada kakak/saudara/perempuan yang lebih tua. (Korea)

Oppa: Panggilan untuk perempuan kepada kakak/saudara/laki-laki yang lebih tua. (Korea)

Pabo: Bodoh. (Korea)

Sajang: Seseorang yang dihormati/tuan. (Korea)

 

Note’s: Ini aku bikin pas baru-baru banget coba nulis

Maaf kalau hasil tulisannya ancur-ancuran dan gaje

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

One thought on “Nae Dongsaeng [1 of 2]

  1. Pingback: Nae Dongsaeng [2 of 2] | Fiction House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s