Tears

Tears

 

A Girl | You, A Boy | Your Bias

 

Drabble – 178 words || Sad || G – K

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Aku semakin mempercepat langkahku begitu mataku menangkap sosoknya yang tengah duduk disalah satu kursi ruang tunggu itu.

Aku langsung mengisi kursi kosong disampingnya dan tanpa ragu memeluk erat tubuhnya, berharap dengan begini bisa memberinya sedikit ketenangan.

Ia membalas pelukanku, kentara sekali kalau ia khawatir, atau mungkin ketakutan?! Untuk beberapa waktu kami hanya terdiam, tidak ada satupun yang mencoba memecah keheningan.

 

Aku melonggarkan pelukanku, mencoba untuk menatap wajahnya, ketika aku merasakan bahunya yang bergetar.

“Maaf.” Ucapnya dengan suara parau saat aku melihat air mata mengaliri pipi mulusnya. Hatiku sakit melihatnya, mengingat ia tidak pernah menagis dihadapanku –atau mungkin memang hampir tidak pernah menangis setelah ia dewasa.

Aku menggeleng, “Laki-laki bukan tidak boleh menangis. Laki-laki diijinkan menangis untuk beberapa keadaan. Seperti kau saat ini.” Timpalku untuk permintaan maafnya. Aku tahu betul dia bukan laki-laki cengeng. Tapi keadaan saat ini hampir mustahil baginya untuk tidak meneteskan air mata.

Dengan susah payah ia mencoba mengulas senyum setulus mungkin. Aku memeluknya lagi, lebih erat dari sebelumnya. Begitupun dengan dirinya. Diam-diam aku menangis. Ruangan yang hening ini hanya diisi oleh tangisan tanpa suara.

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Note’s: Maafkan cerita yang ngalor ngidul ini

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s