Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell

Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell

 

Choi Junhong | Junhong | Zelo (B.A.P), Moon Jongup | Jongup (B.A.P)

 

Onesoot – 1706 words || Action, Bad-fic, Crime, Death Chara, Deathfict, Family, Friendship, Hurt, Sad || PG-17 – M!

 

Story by @kyo_chan0629

 

Semua orang selalu mengatakan bahwa malaikat adalah sosok suci tanpa dosa, namun bagaimana jika tidak begitu? Semua orang orang selalu mengatakan bahwa iblis adalah sosok jahat penuh dosa, namun bagaimana jika tidak begitu? Semua orang selalu mengatakan kalau malaikat adalah penghuni surga dan iblis adalah penghuni neraka, bagaimana jika tidak begitu?

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Aku melihat dengan jelas lelaki itu dipukuli habis-habisan. Perkelahian ini tidak adil, satu lawan –entahlah- mungkin tujuh orang. Aku takut, namun aku tidak tega melihatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk membantunya keluar dari perkelahian tidak adil itu.

Dengan kemampuan bela diriku yang seadanya aku membantunya pergi dari ‘arena pertarungan’ itu. walau sesekali aku harus jatuh tersungkur dan merasakan darah segar mengalir dalam mulutku saat menembus ‘arena pertarungan’ itu.

“Terima kasih.” Ucapnya singkat dan mencoba melepas tanganku yang sedang memeganginya.

“Aku antar.” Kataku singkat.

“Tidak usah. Yang tadi sudah lebih dari cukup.” Katanya dingin, aku tak suka.

Aku hanya pasrah mengikuti keinginannya, walau perlahan masih mengekorinya.

Ia terdiam, dengan cepat membalikan badannya. Membuatku yang sedang mengikutinya tidak bisa berkilah mencari alasan. Matanya menatapku tajam, menandakan tak suka denganku yang terus mengekorinya.

“Aku baik-baik saja. Pulang saja sana!” Dengan nada bicaranya yang dingin kentara sekali ia mengusirku.

Aku hanya diam, tidak berusaha membalas kata-katanya. Baru saja aku menghela napas berat, aku mendengar sesuatu jatuh berdebam tak jauh dari tempatku berdiri mematung.

Itu dirinya, tubuhnya yang jatuh bebas menghantam aspal trotoar yang menyebabkan bunyi itu. Dengan cepat aku berusaha menolongnya, walaupun sudut bibir dan perutku masih berdenyut akibat hantaman orang-orang tak dikenal yang bertarung dengannya tadi. Ukuran tubuhnya yang tak jauh berbeda denganku membuatku tidak begitu sulit membopongnya masuk taksi yang baru saja lewat dan kuberhentikan. Kuputuskan untuk membawanya ke apartemenku.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Aku merasakan sakit disekujur tubuhku saat sebuah cahaya putih terang menelusup kedalam penglihatanku. Beberapa kali aku mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan pandangan terhadap cahaya yang terlampau terang itu.

Mataku menjelajah mengelilingi ruangan yang sangat kuyakin bukan kamar di apartemen kumuh milikku apalagi kamar rumah sakit.

Suara pintu yang terbuka membuat pandanganku tertuju kearah pintu yang berada disudut kanan kamar ini. Sesosok lelaki jangkung berotot memasuki kamar ini, ada sebuah nampan ditangannya. Aku mencoba mendudukan tubuhku, semuanya hanya meninggalkan rasa sakit.

“Sebaiknya kau tetap berbaring.” Katanya sambil mengambil langkah lebar-lebar kearahku.

“Kenapa aku disini?” Tanyaku bingung saat melihat lelaki -yang tadi kuyakini telah menolongku dan terus mengikutiku- ada dihadapanku.

“Kau pingsan saat kau bersi keras kalau kau baik-baik saja dan menyuruhku pulang. Kau sekarang ada diapartemenku, dan ini kamarku.” Jelasnya ringan sambil membantuku duduk.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Jongup masih tak mengerti mengapa lelaki yang bahkan satu sekolah dengannya pun tidak begitu peduli akan dirinya. Selama ini dia hanya sendiri, jangankan diperlakukan spesial, teman pun ia tak punya.

“Tidak bisakah kau berhenti mengekoriku?!” Sentak Jongup, Junhong hanya bergidig.

“Asal kau tidak lagi berkelahi.” Tuntut Junhong. Ia tahu betul percuma memperingati selembut atau sekasar apapun lelaki dihadapannya itu. Tetapi ia ingin ketika –tidak sengaja- bertemu dengan lelaki itu, lelaki itu dalam keadaan baik-baik saja. Bukan dalam keadaan babak belur bahkan pingsan.

“Apa pedulimu? Mengenalku saja tidak!” Sentak Jongup lagi.

Junhong terdiam, perkataan Jongup menyentak batinnya. Lelaki itu benar, dirinya hanyalah seseorang yang tidak sengaja lewat ketika lelaki itu sedang berkelahi dan entah mengapa dirinya memilih menolong lelaki itu.

Seolah tak mendengar perkataan Jongup, Junhong masih terus membuntutinya. Jongup terus berjalan, mencoba tak mempedulikan lelaki yang terus membuntutinya itu.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Sudah beberapa hari belakang semenjak perkelahiannya yang terakhir Jongup selalu dibuntuti Junhong. Bukan ia sudah tak ingin ‘mengusir’ lelaki itu, tapi ia bosan karena lelaki itu tidak mau mendengarnya dan… semakin lama kehadiran lelaki itu tampaknya sudah bukan menjadi gangguan lagi baginya.

 

Jongup tak mengerti dengan Junhong. Lelaki itu seperti senang-senang saja menjadi ‘ekor’nya. Setiap kali pulang sekolah Jongup selalu berpapasan dengan Junhong. Hingga suatu hari rasa penasaran mengalahkan gengsinya, gengsinya yang tak pernah mau berbicara dengan Junhong –selain untuk mengusirnya.

“Apa kau selalu menungguku disini?” Tanya Jongup dengan nada bicaranya yang dingin.

“Iya.” Junhong menjawab singkat, ia masih mengekori Jongup.

“Kenapa?” Tanya Jongup lagi.

“Aku tidak mau kau berkelahi lagi.” Jawab Junhong dengan kepala tertunduk.

“Kenapa?” Pertanyaan yang sama.

“Entahlah. Aku menyukaimu mungkin.” Jawab Junhong polos, namun membuat Jongup tersentak dan berbalik menghadap Junhong.

“Eh… Maksudku… bukan menyukaimu seperti itu! Aku masih normal!” Jelas Junhong gelagapan. Jongup memutar bola matanya, membalikan badannya, dan melanjutkan perjalanannya.

“Bagaimana kalau aku jahat?” Jongup masih penasaran dengan bocah yang diyakininya seumuran dengannya.

“Buktinya tidakkan?!” Jongup hanya terdiam mendengar jawaban Junhong.

Ia tak habis pikir. Apakah bocah ini terlalu polos, atau bagaimana?

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Baru-baru ini Jongup baru menyadari satu hal. Tidak ada lagi pria-pria yang menyerangnya. Ia tak mengerti. Padahal rute dari sekolah menuju apartemen kumuhnya tidak pernah berubah, tempatnya biasa menghabiskan hari pun tidak berpindah.

Ia memutuskan untuk tidak masuk sekolah hari ini. Sebenarnya bukan hal baru ia membolos sekolah. Tapi kali ini niatnya berbeda. Ia sengaja ingin memastikan apakah pria-pria sok terhormat –karena mereka berpakaian rapih layaknya pejabat tinggi Negara yang katanya terhormat itu- itu akan datang menyerangnya jika ia berdiam diri ditempat biasa pria-pria itu menyerangnya?

 

Satu jam berlalu, Jongup sudah merasa luar biasa bosan. Ia hampir tertidur ketika ada suara besi yang berbenturan. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, ia berdiri. Meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku.

Ia benar, pria-pria sok terhormat itu datang. Mereka tidak benar-benar menghilang begitu saja, pikirnya.

Dalam sekali kedipan mata, pria-pria itu sudah mengitarinya. Ada sekitar enam sampai tujuh orang. Jongup akan habis babak belur lagi, ditambah kali ini beberapa diantara pria-pria sok terhormat itu membawa pipa-pipa besi panjang.

Baru saja Jongup memasang kuda-kuda untuk berkelahi sebuah tangan menariknya pergi menjauh dari ‘arena pertarungan’ itu. Jongup memandang galak pemilik tangan itu. Sedangkan si pemilik tangan hanya terus menyeretnya untuk tetap berlari.

 

“Apa-apaan ka–” “Sudah kubilang jangan berkelahi!” Potong Junhong galak, Jongup hanya melotot tak percaya dengan sikap Junhong kali ini.

“Berapa kali aku harus mengatakannya?!” Junhong masih terlihat emosi, namun ia sudah bisa mengontrol nada bicaranya. Sungguh ia tak ingin lelaki dihadapannya itu babak belur apa lagi sampai tewas mengenaskan karena dikeroyok.

“Tidak bisakah kau hanya pergi kesekolah lalu langsung pulang kerumah seperti kebanyakan pelajar lain?! Kalau kau bosan berada di sekolah kau bisa hanya tertidur di kelas atau ruang kesehatan atau perpustakaan!” Mata Junhong berkilat-kilat menahan emosinya.

Jongup memandanginya tak percaya. Ia masih terdiam, tak berniat menimpali perkataan Junhong sedikitpun.

Hening menyelimuti keduanya, hanya terdengar suara lalu lalang kendaraan di jalan utama yang tak jauh dari gang tempat mereka bersembunyi sekarang.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Entah mengapa Jongup memilih untuk menunggu Junhong disamping sebuah kedai ramyeon –tempat Junhong biasa menunggunya- ketika lelaki itu tak kunjung menunjukan batang hidungnya.

Baru lima belas menit dan entah berapa kali Jongup menguap saking bosannya menunggu. Sungguh ia benci menunggu, tapi entah mengapa sisi lain dirinya bersikeras untuk menunggu bocah lelaki itu.

 

Satu jam lebih dan bocah itu belum juga datang. Ia akhirnya memutuskan untuk memesan semangkuk ramyeon dan segelas green tea di kedai ramyeon di samping tempatnya tadi berdiri menunggu Junhong yang tak kunjung datang.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Kesabarannya sudah habis. Sudah tiga jam ia menunggu bocah lelaki yang sekolahnya saja ia tidak tahu, padahal setiap bertemu bocah itu selalu memakai seragamnya lengkap. Setelah membayar semangkuk ramyeon dan tiga gelas green tea, Jongup memutuskan untuk pulang.

 

Baru beberapa langkah ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Satu sisi hatinya senang, ia segera berbalik menghadap sosok yang mengikutinya tadi.

Air mukanya berubah ketika mengetahui siapa sosok sebenarnya yang mengikutinya itu. Pria-pria sok terhormat itulah yang mengikutinya.

Perlahan ia membalikan badannya dan langsung berlari sekencang mungkin, entah mengapa ia memilih untuk melarikan diri kali ini. Sial, ia kalah cepat dari pria-pria itu. Dengan sekali pukulan Jongup langsung jatuh berlutut dihadapan pria-pria itu.

Jongup berusaha untuk berdiri, tapi kakinya berdenyut hebat. Ia meringis dan mencengkram kakinya erat-erat, berharap dengan begitu rasa sakit dikakinya menghilang.

Belum puas dengan hanya memukul kaki Jongup, pria-pria itu langsung memukulinya bergantian. Beberapa diantara mereka menggunakan pipa-pipa besi untuk memukulinya.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Junhong terbangun dengan kepala yang berdenyut. Ia tersadar, ini ukan apartemen-nya berusaha turun dari tempat tidurnya walaupun kepalanya terus berdenyut tanpa ampun.

Didapati dirinya dicermin dengan kepala dibalut perban, dan disatu sisi terlihat ada bercak merah kecoklatan yang diyakini sebagai darahnya yang mulai mengering.

Dengan sekuat tenaga, sambil menahan nyeri dikepalanya, Jongup terus berjalan keluar dari kamarnya dan turun kelantai satu. Disana ia langsung dihadang beberapa pria berbadan tegap dan berseragam rapih. Ia tahu betul siapa pria-pria itu. Mereka pasti suruhan ayahnya, bodyguard yang lebih pantas disebut tukang pukul. Karena mereka siap memukulinya ketika dirinya melawan.

Dengan lemas Junhong berjalan ke ruang tv, dan langsung duduk disalah satu sofa panjang di ruangan itu. Matanya memejam, bibirnya memanjatkan beberapa doa.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

Pria-pria berpakaian rapih itu langsung berpencar, melarikan diri, meninggalkan bocah lelaki yang kini terkapar tak berdaya. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka lebam, beberapa bagian tubuhnya mengeluarkan darah segar.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

“Kau tidak bisa melakukan apa-apa anak kecil. Bocah lelaki sialan yang selalu kau bela itu sudah tidak ada. Sekarang kau hanya perlu menjadi anak ayah yang penurut!” Ucap seorang pria paruh baya –yang terdengar seperti sebuah perintah- pada seorang lelaki jangkung yang sedang duduk di sofa –dihadapannya- sambil memegang kepalanya yang terus berdenyut.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

“…Lelaki itu diketahui bernama Moon Jongup. Ia pelajar tingkat tiga SMA. Ia hidup seorang diri, sehinnga pihak kepolisian memutuskan untuk mengkremasi jasadnya dan membuang abunya. Pihak kepolisian juga masih terus mengusut kasus pengeroyokan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, apa lagi ini menimpa seorang anak di bawah umur…” Junhong langsung memeluk erat kedua lututnya. Ia merinding, dadanya begitu sesak, matanya mulai memanas.

“Maafkan aku Jongup-ah. Maafkan aku.” Sesal Junhong, hatinya begitu sakit.

 

*Between Angel and Demon ~ Between Heaven and Hell*

 

“Mereka selalu mengatakan akulah sang malaikat penolongnya, sedangkan lelaki itu hanyalah iblis pembawa kesialan. Tapi sungguh mereka keliru. Akulah iblis itu. Iblis yang seharusnya tinggal di ‘neraka’ kehidupannya, bukan ‘surga’ kehidupanku yang sekarang.”

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

-ah: Digunakan pada akhiran nama bukan huruf vokal, biasa digunakan pada seseorang yang sudah dekat sekali. (Korea)

 

Note’s: Pas lagi syndrome lagunya Boa yang Between Heaven and Hell OST Shark, dan jadilah ff ini

Ga ada maksud bashing atau apapun ko. Lagi iseng coba bikin ff yang sedikit dark -favoritku- kekeke

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s