WOLF (Gotcha!)

WOLF (Gotcha!)

(Sequel of WOLF (First Story) and WOLF (Who Really You Are?))

 

Cho Seungrin | Seungrin (OC), Cho Jinho | Jino (S.M. The Ballad/Rookies), Xi Luhan | Luhan (Actor/Soloist), Wu Yifan | Yifan | Kevin Li | Kris (Actor/Soloist), Choi Jinri | Jinri | Sulli (f(x)),, EXO members

 

Series/Oneshoot – 1623 words || Action, Angst, Brothership, Death Chara, Friendship, Sad || PG-17 – M!

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Setelah kejadian itu, Jino dan anak buahku yang lainnya berusaha menyembunyikan kegagalanku dalam menjalankan misi malam itu. Aku tahu betapa sulitnya mengelabui ketua kami itu, instingnya begitu kuat.

Tapi sungguh bersyukur Jino dan yang lainnya berhasil mengelabui beliau. Betapa beruntungnya lagi tak ada satupun dari tim lain yang melihat kejadian itu, apalagi sampai mengetahui wajah buruan kami sesungguhnya.

 

*Wolf*

 

Satu minggu berlalu setelah kejadian itu, aku tak pernah melihat Luhan lagi. Wali kelas kami mengatakan kalau dia sakit dan dibawa pulang oleh orang tuanya ke China, dengan alasan agar dia sembuh lebih cepat. Kulihat tak ada perubahan dari teman-temanku yang lain, terutama mereka yang dekat dengan Luhan. Seperti Chanyeol, Kai, Suho, Sehun, Baekhyun, D.O, Tao, Chen, Xiumin dan Lay. Tak ada satupun juga yang menyadari siapa diriku sebenarnya, mungkin karena penyamaran sempurnaku. Ya, sama seperti para serigala itu kami –wolf hunter– harus bisa berbaur dengan sempurna diantara manusia-manusia normal lainnya.

Hanya satu yang sangat kentara perubahan sifatnya, Sulli. Ya, gadis yang sewaktu itu membuatku sadar dari keterkejutanku dan membuatku secepat kilat meninggalkan tempat itu adalah Sulli. Kuyakin sekali dia sangat shock melihat apa yang terjadi pada sahabatnya itu, sama sepertiku.

 

*Wolf*

 

Kali ini sudah memasuki semester baru dan aku masih belum melihat tanda-tanda kehadiran Luhan. Tak ada penjelasan lain dari para staff pengajar ataupun kesepuluh sahabatnya. Terakhir kali hanyalah wali kelas kami yang mengatakan dia sakit dan dibawa pulang oleh orang tuanya ke China.

 

*Wolf*

 

Hari ini sekolah begitu ramai, kudengar ada murid baru yang sangat tampan dan tentunya membuat seluruh gadis disekolah ini heboh, bahkan sampai para staff pengajar sekalipun.

 

Bel tanda masuk pun berbunyi, wali kelas kami pun masuk. Dibelakangnya berdiri sesosok jangkung, yang kuyakini sebagai murid baru itu.

“Perkenalkan dia murid pindahan dari Kanada.” Kata pria berbadan tegap yang waktu itu juga mengantarku saat pertama kali aku masuk sekolah ini.

Annyeonghasseyeo. Kris imnida. Bangapseumnida. Kamsha hamnida.” Katanya dengan logat Korea yang sedikit aneh.

 

Mataku membulat sempurna ketika tatapan kami bertemu, begitupun dengan dirinya. Dia… lelaki jangkung berkulit putih dengan wajah blasteran itu! Dialah lelaki yang telah merenggut kehidupan adik kembarku! Aku menemukannya!

“Kau bisa duduk disana Kris.” Kata wali kelas kami sambil menunjuk bangku kosong tepat dibelakangku.“Semuanya bersikaplah baik padanya, dan bantulah dia dalam berbahasa Korea dengan baik! Sekarang mari kita mulai pelajaran hari ini!” Sambung beliau lagi.

 

Jantungku berdegup kencang, amarahku memuncak ketika tahu siapa murid baru yang begitu heboh dibicarakan seantero sekolah ini. Lelaki, ah tidak, serigala pembunuh itu kini duduk tepat dibelakangku.

 

*Wolf*

 

Sekali lagi matanya membulat sempurna, rahangnya mengeras, jantungnya berdegup tak karuan ketika menyadari gadis yang begitu ia hindari berada dihadapannya. Cho Seungrin, kakak kembar dari Cho Sohee, gadis yang tewas dipelukannya lebih dari satu tahun yang lalu itu kini begitu dekat dengannya.

 

“Kau masih hidup ternyata.” Ketus Seungrin, emosinya sudah sampai diubun-ubun begitu melihat Kris yang telah lama diincarnya.

“Yeah.” Jawab Kris sesantai mungkin, walau jauh didalam dirinya merasa sungguh tak sanggup menghadapi gadis dihadapannya itu.

“Mengapa kau baru menampakkan dirimu sekarang huh?” Pandangan Seungrin hanya terfokus pada Kris. Dendam begitu membakar jiwanya. Kencangnya angin diatap gedung sekolah itu seolah menggambarkan seberapa besar emosi Seungrin pada lelaki jangkung dihadapannya.

“Maaf… Aku… sedikit sibuk.” Ucap Kris ragu, masih tetap berusah terlihat sesantai mungkin. Sungguh tak sanggup dirinya berlama-lama disana.

“Haha. Sibuk? Ternyata serigala punya kesibukan juga huh?! Kesibukan mencari ‘santapan’kah?” Timpal Seungrin tetap dengan nada ketusnya.

Belum sempat Kris menjawab bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi. Seungrin hanya bisa menghentakkan kakinya kesal, lalu meninggalkan tempat itu begitu saja. Meninggalkan Kris yang masih membeku disana, bukan karena angin yang bertiup kencang, tapi karena dirinya yang sungguh tak sanggup menghadapi Seungrin saat itu.

 

*Wolf*

 

Bel yang menunjukkan waktu pulang pun berbunyi. Seperti biasa koridor kelas yang tadinya sepi berubah menjadi ramai. Seungrin masih bergeming ditempatnya duduk.

 

“Rin-ah, ayo kelapangan!” Ajak Xiumin yang tak tahu kalau sahabatnya itu sedang memendam kemarahan yang begiu besar.

“Maaf Xiumin-ah, tapi ada yang harus kuselesaikan dulu. Kalian pergi saja tanpa aku.” Kata Seungrin setenang mungkin, setenang dirinya yang biasa.

“Sayang sekali. Setelah Luhan pergi kali ini kau pun ingin seperti itu?” Sindir Lay, temannya yang satu ini sedang sensitif nampaknya, tapi Seungrin sedang jauh lebih sensitif darinya. Seungrin hanya bisa membalas dengan senyum tipis, hambar. Baekhyun dan Chen langsung menyeret Lay pergi dari sana sambil menyunggingkan senyum garing kearah Seungrin.

 

Tak jauh berbeda dari Seungrin, Kris pun hanya diam membatu ditempatnya duduk, tepat dibelakang Seungrin.

“Tunjukkan persembunyianmu! Sekarang!” Perintah Seungrin kasar begitu kelas kosong.

 

*Wolf*

 

Gelapnya malam tak menyurutkan langkah Seungrin untuk terus mengikuti Kris. Tak peduli akan dibawa kemana dirinya, tak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Satu hal yang ada dibenaknya kini, membalaskan kematian Sohee tak peduli bagaimana caranya.

 

Mereka pun tiba disebuah bangunan tua yang tak terawat. Tanpa ragu keduanya pun memasuki bangunan itu.

Ditengah-tengah bangunan tua itu Kris menghentikan langkah kakinya, diikuti Seungrin. Baru saja akan mengajukan protes karena dirinya tak melihat apapun disana, selain dinding usang, mata Seungrin membulat terkejut. Dihadapannya ada sosok yang telah lama menghilang, dan tanpa disadarinya begitu ia rindukan. Lelaki cantik berambut blonde yang selalu menyunggingkan senyum yang begitu manis, Xi Luhan.

Kris! Kau datang.” Kata Luhan begitu melihat kehadiran Kris dan Seungrin disana.

Seperti janjiku padamu dulu Luhan.” Keduanya berbicara menggunakan bahasa yamg tak Seungrin mengerti. Bahasa mereka sendiri, para serigala.

“Apa maksudnya ini huh?” Seungrin kebingungan melihat keadaan dihadapannya.

Mungkinkah mereka memiliki hubungan yang begitu dekat? Batinnya tak percaya dengan kenyataan dihadapannya. Seseorang yang begitu ia inginkan kematiannya, dan seseorang yang tak dapat ia bunuh sekalipun itu adalah misi berharga yang tak pernah ia lewatkan begitu saja sebelumnya.

 

*Wolf*

 

“Dengarkan aku Rin-ah!” Pinta Luhan lembut.

“Apa? Apa maksudnya? Aku sungguh tak mengerti Luhan! Kau menghilang begtu saja, dan kini kau muncul seenaknya!” Seungrin menekan emosinya, tak ingin mendengar apapun yang Luhan katakana. Sekalipun Luhan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, sungguh ia tak ingin membunuhnya.

“Dengarkan penjelasanku dulu!” Kris memotong.

“Apa? Apa yang ingin kau jelaskan huh?! Penjelasanmu percuma siluman!” Bentak Seungrin, dirinya sudah benar-benar dikuasai dendamnya. “Sohee tidak akan kembali hanya dengan penjelasan karanganmu itu!” Lanjutnya lagi.

“Bukan salahnya! Berhenti menyalahkannya!” Bentak Luhan. Seungrin terkejut, tak percaya Luhan yang membentaknya begitu kasar.

“Xi Luhan!” Kali ini giliran Kris yang membentak.

“Aku yang membunuhnya! Aku yang membunuh adikmu! Bukan Kris! Berhenti menyalahkna Kris!” Suara Luhan penuh dengan emosi.

“Jangan mengada-ngada!” Suara Seungrin memelan, masih tak percaya.

“Hentikan Xi Luhan!” Bentak Kris lagi.

“Diam Kris! Aku harus menjelaskannya! Aku tak mau kau diperlakukan seperti ini terus!” Luhan mulai geram.

“Benar Rin. Aku yang membunuh adikmu!” Luhan mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan.“Saat itu aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk melawan wolf hunter. Ketika tenagaku mulai habis aku merasa ‘lapar’. Perlahan namun pasti aku mulai ‘memangsa’ teman-temanku. Ketika itu aku masih bisa melawan insting alamiku, membuatku hanya merubah mereka menjadi serigala sama sepertiku dan Kris.”

“Saat terakhir aku sungguh tak dapat menahan instingku untuk ‘makan’.” Lanjtunya lagi.

“Saat itulah Sohee datang dan menawarkan dirinya. Aku sudah tak bisa mengontrol insting alamiku yang begitu liar, dan… begitulah semuanya terjadi. Maafkan aku… sungguh… maafkan aku Seungrin-ah.” Jelas Luhan terbata-bata, sekuat tenaga ia menahan air matanya.

Untuk pertama kalinya Seungrin mengeluarkan air mata dihadapan orang lain. Terakhir kali ia menangis ketika pemakaman Sohee. Tubuhnya bergetar, dengan cepat ia meninggalkan tempat itu. Namun ia kalah sigap dari Kris. Kris menggenggam tangannya erat, menahannya pergi. Entah mengapa tak ada perlawanan sedikitpun dari Seungrin.

“Dengar!” Kris memerintah, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. “Sohee melakukan hal itu karena dia tahu Luhan sedang sekarat saat itu. Kalau Sohee tak melakukan hal itu kemungkinannya dua. Luhan akan memakan lebih banyak korban lagi, atau dia akan mati. Dan perlu kau tahu, Chanyeol, Kai, Suho, Xiumin, Lay, Baekhyun, Sehun, D.O, Tao dan Chen juga adalah bagian dari kami setelah kejadian itu.” Seungrin semakin terkejut mendengarkan penjelasan tambahan yang diberikan Kris. Matanya menatap mata Kris dalam-dalam, mencari pembenaran disana.

Tanpa mereka sadari kesepuluh orang yang tadi Kris sebutkan sudah berdiri dibelakang mereka dan hanya mampu menatap lantai usang gedung tua itu dengan tatapan kosong.

 

*Wolf*

 

“Kai…” Terdengar suara Sulli dari sudut ruangan, tak ada yang menyadari kehadirannya disana sebelumnya. Tubuh gadis itu bergetar karena menahan tangis. Saat itu pula Seungrin tiba-tiba membanting tubuh jangkung Kris kelantai, mengahasilkan bunyi berdebam yang cukup keras.

“Merunduk! Semua!” Perintah Seungrin galak. Yang diperintah hanya bisa menurut dengan tatapan seribu tanya.

Seungrin langsung berlari secepat kilat kearah jendela tanpa kaca tak jauh dari tempat Luhan berdiri. Sesosok lelaki kecil berbadan tegap menyeruak masuk keruangan itu, berusaha keras menyerang Luhan dan Kris .Dengan sigap Seungrin mengeluarkan senjata andalannya, sebilah pisau berwarna silver. Pertarungan sengit diantara keduanya pun tak terelakan lagi.

Dua belas lelaki yang hadir diruangan itu hanya bisa merapat kedinding tanpa tahu harus melakukan apa. Sedangkan Sulli sudah jatuh terduduk tepat didepan pintu dimana Seungrin, Kris dan yang lainnya masuk sebelumnya.

“Diam! Ini hanya antara aku dan dia!” Perintah Seungrin kasar saat Luhan dengan instingnya berusaha maju ketengah pertarungan itu. Dengan cepat Kris menarik lengan Luhan dan mengisyaratkannya untuk tidak ikut campur.

 

Pisau milik Seungrin sudah tepat berada di depan perut lelaki itu, dengan sekali tusuk lelaki itu akan tewas. Namun Seungrin kalah cepat.Pisau yang tak kalah tajam dari pisau yang dimilikinya telah berhasil menusuk bagian belakang kepala gadis itu, membuatnya mengalami pendarahan hebat dan langsung tak sadarkan diri.

Lelaki kecil berbadan tegap itu terkejut dengan apa yang telah dilakukannya. Dengan cepat ia menarik pisau miliknya dari kepala Seungrin, dan ia pun melesat pergi secepat kilat dari tempat itu. Menyisakan keterkejutan luar biasa diantara dua belas lelaki dan seorang gadis yang berada dekat dengan ‘arena pertarungan’ itu.

 

*Wolf*

 

“Lebih baik kau mati ditanganku… Daripada kau harus mati ditangan ketua, atau… lebih buruk lagi…mati ‘disantap’ dua belas manusia jadi-jadian itu.” Ucap sang pria sesaat setelah ia meninggalkan gedung itu. Terpaan angin malam mengeringkan air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

Annyeonghasseyeo: Sapaan / Hallo. (Korea)

…imnida: Perkenalkan, nama saya… (Korea)

Bangapseumnida: Salam kenal. (Korea)

Kamsha hamnida: Terima kasih. (Korea)

-ah: Digunakan pada akhiran nama bukan huruf vokal, biasa digunakan pada seseorang yang sudah dekat sekali. (Korea)

Wolf Hunter: Pemburu serigala. Hanya istilah dalam FF ini.

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

One thought on “WOLF (Gotcha!)

  1. Pingback: WOLF (Start Here!) | Fiction House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s