Indigo

Indigo

 

Evelyn (OC), Wu Yifan | Yifan | Kevin Li | Kris (Actor/Soloist),, Hwang Miyoung | Miyoung | Stephanie Hwang | Tiffany (SNSD/GG)

 

Ficlet – 711 words || Romance, Supernatural, Sad/Comfort || PG-15 – T

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Gadis mungil berambut coklat itu terkejut ketika ia baru saja terbangun dan mendapati sesosok lelaki dengan jangkung diatas rata-rata menatapnya lekat-lekat.

“Ka… kau…” Gadis itu tergagap.

“Kenapa kau seterkejut itu?” Lelaki itu tersenyum lembut.

“Ba… bagaimana mungkin?” Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Mungkin saja cantik.” Lagi-lagi lelaki itu tersenyum lembut, senyum yang begitu disukai gadis itu.

Gadis itu masih terperangah. Matanya membulat sempurna, mulutnya sedikit menganga. Dia sudah tidak ada –lelaki itu. Bagaimana mungkin sekarang lelaki itu berdiri dihadapannya? Dengan senyum lembut yang hanya diperlihatkan padanya seorang. Ditambah lagi, sosok lelaki itu begitu nyata. Batin gadis itu berkecamuk.

Lelaki itu tetap tersenyum, tak bergeming sedikit pun.

 

*Indigo*

 

Lelaki itu benar, semuanya mungkin. Buktinya kini, lelaki itu sedang berjalan berdampingan dengan gadis itu. Saling menautkan jemari mereka. Melakukan hal-hal yang dulu –sebelum lelaki itu pergi- sering mereka lakukan.

“Aku senang melihatmu yang sekarang.” Ucap seorang wanita berseragam yang umurnya hanya terpaut beberapa tahun diatas gadis itu.

“Terima kasih. Ini berkat dia.” Gadis itu menatap lelaki disampingnya. Keduanya tersenyum lebar.

Wanita berseragam itu ikut tersenyum. Ia menatap gadis itu dan lelaki disampingnya bergantian.

“Kalau begitu kau harus menghabiskan setiap jatah makanmu ok?!” Ucap wanita itu, yang terdengar seperti sebuah perintah.

Gadis itu hanya tersenyum kikuk. Ia masih tidak yakin apakah mampu menghabiskan setiap jatah makannya. Tapi yang ia yakin sekarang ia akan lebih bersemangat untuk makan. Tentu semuanya karena kehadiran lelaki disampingnya.

 

*Indigo*

 

“Kris.” Gadis itu memanggil manja lelaki yang sedang asik memandang keluar jendela.

“Kenapa?” Lelaki yang dipanggil Kris itu menoleh dan langsung memberikan senyum lembut andalannya.

“Kau tidak akan pergi lagi kan?” Gadis itu memasang wajah melasnya.

“Tidak lagi Evelyn sayang.” Jawab Kris lembut.

“Terima kasih. Walau tidak lagi seperti dulu. Terima kasih.” Gadis bernama Evelyn itu ikut tersenyum.

“Bukan masalah.” Kris tidak bisa berhenti tersenyum setap kali melihat gadisnya itu.

 

*Indigo*

 

“Aku bosan disini Kris.” Kata Evelyn lagi.

“Lalu kau mau kemana? Kau juga tidak bisa pulang kan?”

“Memang. Maka dari itu aku bosan. Kalau lari pun aku tidak tahu harus hidup bagaimana.”

“Kalau begitu tinggallah.”

“Tapi aku bosan.”

“Apakah masih tetap bosan walau sudah kutemani sepanjang hari?”

“Tidak sih.”

“Yasudah. Tinggallah. Aku akan selalu bersamamu.”

“Benarkah?”

Kris mengangguk –mengiyakan.

“Terima kasih.”

Bola mata Evelyn membulat sempurna ketika bibir Kris menyentuh bibirnya. Ini memang bukan yang pertama, namun tetap saja Evelyn terkejut.

Setelah dirasa cukup, Kris melepas tautan bibir mereka. Mengacak lembut rambut gadisnya itu, lalu terkekeh saat melihat ekspresi terkejut gadisnya itu.

“Hmmph… Lihat wajahmu. Apa kau menginginkannya lagi?” Goda Kris sambil menahan tawanya.

“Hei. Apa-apaan kau?” Evelyn memundurkan sedikit badannya ketika Kris memajukan wajahnya. Wajah Evelyn berubah kemerahan karena malu.

Kris langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi polos nan menggemaskan gadisnya. Sedangkan Evelyn hanya memajukan bibirnya tanda ia kesal.

 

*Indigo*

 

“Fanny!” Seru seorang wanita berseragam pada wanita berseragam sama yang sedang merapikan beberapa file didalam laci.

“Ada apa?” Wanita yang dipanggil Fanny itu berbalik dan menunjukkan eye smile-nya.

“Jadi benar gadis itu tidak gila?” Wanita berseragam itu nampak begitu penasaran.

“Gadis mana?” Fanny tak mengerti dengan pertanyaan sahabatnya itu.

“Gadis berambut coklat yang kau tangani. Aku pernah beberapa kali melihatmu yang sedang mengobrol dengannya dan entah siapa diantara kalian.” Jelas wanita itu tidak sabar.

“Ah. Gadis itu. Evelyn?! Dari awal juga sudah kubilang dia tidak gila. Kalian saja yang tidak mau dengar.” Fanny hanya tersenyum.

“Lalu?” Wanita itu menginginkan penjelasan lebih.

“Hah.” Fanny menghembuskan napas berat, “Gadis itu indigo. Dia tidak gila. Hanya saja keluarganya tidak mengerti, tidak mau mengerti tepatnya. Beberapa dokter disini juga sudah berkali-kali menjelaskan pada keluarganya. Tapi sepertinya keluarganya memang tidak mau mengerti, tidak mau menerimanya.”

“Kasihan sekali. Hanya karena kelebihannya ia dibuang keluarganya.” Wajah wanita itu berubah sendu.

“Berarti dia sama sepertimu?” Tanya wanita itu kemudian.

“Aku hanya punya indra keenam. Bukan indigo. Seseorang yang memiliki indra keenam belum tentu indigo. Tapi seorang indigo sudah pasti memiliki indra keenam. Lagi pula aku lebih beruntung.” Jelas Fanny dengan nada datar sambil menunjukkan –lagi- eye smile-nya. Sahabatnya itu hanya mengangguk-angguk mengerti.

“Ah. Lalu bagaimana soal perubahannya yang begitu drastis itu?” Wanita itu kembali memasang wajah menuntut penjelasan lebih.

“Laki-laki super jangkung dengan paras sempurna. Kekasihnya dulu. Lelaki itu datang kembali dikehidupannya, walau mereka sudah berbeda dunia sekarang. Kau mengertikan?” Lagi-lagi sahabatnya hanya mampu mengangguk dengan wajah terkejut bercampur rasa tidak percaya.

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

Indigo: seseorang yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural.

Indra keenam: disebut juga sixsense. Kemampuan seseorang melihat makhluk astral/gaib (kasat mata)

 

R&R please ;;)

Advertisements

4 thoughts on “Indigo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s