Eight Years Latter

Eight Years Latter

 

Zhang Yixing | Yixing | Lay (EXO/EXO-M), A Girl | You | OC

 

Oneshot – 1426 words || Unknown Relationship, Sad || G – K+

 

Story by @kyo_chan0629

 

 

Disclaimer

Para artis milik Tuhan, keluarganya, diri mereka sendiri dan agensi. OC miik saya pribadi. Cerita murni hasil imaginasi –liar- otak saya. Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh oc, alur, latar belakang, maupun cerita secara keseluruhan.

Saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari cerita ini. Semua cerita hanya untuk kesenangan semata. Hak cipta dari cerita ini milik saya pribadi.

 

Mohon maaf untuk segala bentuk kesalahan penulisan (typo), baik dalam segi pemilihan kata, ejaan, maupun tanda baca.

Butuh banyak masukan.

Semoga hasil tulisan-tulisan berikutnya bisa lebih baik. Semoga ada yang tetep suka sama hasil tulisan saya.

 

Happy reading my beloved readers ^_^

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

LIKE THE CAST? LIKE THE STORY?

JUST STAY ON THIS PAGE!

IF NOT, JUST LEAVE THIS PAGE!!!

 

NO BASH!!! NO FAN WAR!!!

 

PLEASE LEAVE SOME COMMENT

DON’T BE SILENT READERS!!!

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati butiran salju di Negeri ini. Negeri yang sangat terkenal dengan bamboo dan Panda-nya. Negeri asalku yang hampir delapan tahun tidak pernah ku kunjungi.

 

Ku nikmati setiap butiran salju yang turun dari langit dan menyentuh lembut tubuhku. Tidak peduli dengan pandangan aneh orang-orang di sekelilingku. Biarlah, aku sangat menikmati moment seperti ini. Aku sangat suka salju.

 

*Eight Years Latter*

 

Kerumunan orang-orang yang siap untuk menyebrang –termasuk aku- tiba-tiba teralihkan oleh sesuatu. Layar besar yang terpampang di salah satu gedung pencakar langit-lah yang mengalihkan focus kami, terutama para gadis remaja. Sebenarnya bukan layarnya, tapi sesuatu yang di tayangkan di sana.

Konser dunia salah satu boyband Korea Selatan yang memang selalu menjadi primadona sejak awal debutnya empat tahun lalu. EXO

Aku hanya terpaku saat layar raksasa itu menampilkan satu per satu profil member boyband itu. Entah mengapa, sudut terdalam hatiku berdebar tak karuan.

Hatiku sedikit terhenyak ketika melihat sosok lelaki berkulit putih pucat dengan rambut kecoklatannya ditampilkan di layar itu. Sorot matanya, senyumnya, dan lesung pipi itu, semuanya masih sama. Tanpa kusadari, aku sedikit tersenyum saat melihat sosoknya yang tersenyum manis. Rasanya menenangkan.

 

Aku tersadar ketika seorang bocah lelaki menabrakku. Ia membungkukan badannya, meminta maaf, lalu pergi saat ibunya menarik lengannya agar dia bergerak cepat sebelum lampu penyebrangan berubah lagi.

Aku hanya tersenyum melihat bocah lelaki itu, pikiranku sempat melayang sejenak ke masa lalu, sebelum akhirnya aku buru-buru menyebrang.

 

*Eight Years Latter*

 

Segelas green tea yang masih mengepulkan uap panasnya membuatku kembali teringat akan sosok lelaki yang terpampang di layar raksasa salah satu gedung pencakar langit yang ku lihat siang tadi.

Aku baru tersadar. Café ini adalah tempat di mana kami biasa menghabiskan waktu bersama, dulu. Green tea di hadapanku adalah minuman favoritku yang dulu selalu ku pesan saat pergi ke café ini bersamanya. Ternyata walau sudah begitu lama, bayangannya masih menarikku dalam kebiasaan lama kami.

 

“Sudah lama?” Seorang gadis langsung mengambil tempat dihadapanku.

“Ah. Tidak. Pesananku baru saja datang.” Jawabku sambil tersenyum dan menunjuk green tea di hadapanku.

“Hujan salju menghambatku. Maaf.” Katanya dengan wajah memelas andalannya. Sedangkan aku hanya tersenyum, sudah sangat terbiasa dengan sifat sahabatku ini.

“Ah, ini untukmu. Aku berhasil mendapatkannya kemarin.” Aku hanya menatapnya dan amplop panjang yang kini tergeletak di hadapanku dengan tatapan super bingung.

“Hah! Kau ini pura-pura tidak tahu, tidak ingin tahu, atau memang tidak tahu?!” Katanya gemas. Sedangkan aku masih menatap dirinya dan amplop di hadapanku bergantian.

“EXO! Ini tiket konser EXO sayang.” Katanya jengah melihatku yang menatapnya bingung.

“Oh.” Jawabku singkat. Aku tahu betul sahabatku yang satu ini adalah fans berat boyband asal Korea Selatan itu.

Walaupun kami tidak pernah bertemu selama hampir delapan tahun. Tapi kami selalu berkomunikasi dan itulah yang membuatku selalu tahu tentangnya, begitu juga sebaliknya.

“Ck.” Ia berdecak kesal, “Jangan bilang kau tidak akan datang. Ayolah! Aku tahu kau sangat ingin melihatnya.” Terlihat betul ia kesal dengan reaksi datarku barusan.

Entahlah. Aku memang merindukannya -lelaki berkulit putih pucat dengan rambut kecoklatan itu. Tapi sisi hatiku yang lain sangat tidak siap kalau harus bertemu dengannya.

“Aku tidak menerima penolakan ok!” Katanya sebelum ia mengalihkan topik pembicaraan.

 

*Eight Years Latter*

 

Aku hanya membolak-balikkan amplop panjang di tanganku. Ingin membukanya, tapi aku ragu.

“Kau tidak makan sayang?” Suara ibu dari dapur membuatku terlonjak dan reflek berlari menghampiri pintu.

“Aku sudah makan di luar bu.” Kataku sambil menyembulkan kepalaku dari balik pintu.

Ibu hanya ber-oh ria, lalu setelahnya dapat kudengar anggota keluargaku yang lain memulai makan malam.

 

Aku kembali mendudukkan diri di kasur. Menatap amplop yang sedari tadi ku pegang dan ku bolak-balik.

Menyerah, karena suara sahabatku yang memaksaku untuk datang terus mengiang di kepalaku. Aku akhirnya membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas di dalamnya.

Kursi vip, baris paling depan. Begitu kira-kira yang tercantum dalam tiket itu. Aku menelan salivaku susah payah.

 

*Eight Years Latter*

 

Sudah tiga puluh menit aku duduk di kursi paling dekat dengan panggung ini. Disampingku, sahabat baikku sudah duduk dengan perasaan membuncah. Sedangkan aku hanya terdiam dengan perasaan tak menentu.

Hingga akhirnya lampu ruangan mulai meredup dan mati, tiga layar besar mulai menampilkan satu per satu sosok lelaki yang membuat ribuan penonton yang memenuhi ruangan ini berteriak histeris. Termasuk sahabatku.

 

Jantungku kembali berdegup tak karuan saat melihat sosok itu lagi. Sosok yang sama yang ku lihat di layar raksasa gedung pencakar langit waktu itu.

 

*Eight Years Latter*

 

“Ini lagu terakhir dari kami.” Kata leader di antara mereka. Seluruh penonton menyuarakan kekecewaan mereka, walau disisi lain kuyakin mereka merasa sangat senang dan puas dengan konser yang berjalan selama empat jam lebih.

Suasana berubah menjadi tenang, namun ada haru terselip di dalamnya.

 

Aku melihat dengan jelas matanya yang membulat. Menandakan kalau dirinya begitu terkejut. Sejurus kemudian ia tersenyum manis, walau sorot matanya berkata sebaliknya.

Cukup lama sosoknya berdiri di hadapanku. Aku sudah tau ini mungkin saja terjadi. Walau aku sudah menyiapkan hatiku untuk menghadapinya, tapi tetap saja hatiku tidak pernah siap.

 

*Eight Years Latter*

 

Konser berakhir. Lampu ruangan pun mulai menyala. Sahabatku memelukku erat, menyalurkan kebahagiaannya. Aku ikut tersenyum melihat senyum lebarnya. Tentu saja ia sangat senang, karena ini adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu olehnya.

 

*Eight Years Latter*

 

“Ikut aku.” Katanya saat kami sudah berada di aula gedung serba guna ini.

Aku hanya pasrah saat dirinya menarikku entah kemana. Perasaanku tak karuan. Entah mengapa aku merasa takut, tapi juga senang disaat yang sama.

 

*Eight Years Latter*

 

Aku hanya bisa mematung saat pintu itu terbuka. Memperlihatkan beberapa sosok lelaki berparas sempurna di dalamnya.

“Aku menepati janjiku kan?” Kata sahabatku ringan pada sosok lelaki yang entah sejak kapan berdiri begitu dekat denganku.

Lelaki itu tersenyum lalu mengangguk.

“Aku pulang dulu. Masih banyak pekerjaan. Terima kasih untuk tiket dan tanda tangannya Yixing.” Ucapnya sambil berlalu. Aku langsung menatapnya dengan tatapan memohon agar aku bisa ikut pulang bersamanya. Tapi ia justru balik menatapku galak, seolah berkata bahwa aku harus tetap tinggal.

 

“Lama tidak bertemu.” Ucapnya lembut. membuat ribuan kupu-kupu berterbangan di perutku.

“Iya. Kau nampak baik.” Sahutku sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.

Jadi ini gadismu hyung?” Kata seorang lelaki berkulit tan dibelakangnya dalam bahasa Korea, yang cukup ku kuasai.

Ia hanya tersenyum, “Bukan Jongin-ah.” Jawabnya santai dalam bahasa Korea juga. Tapi… mengapa matanya menyiratkan kebohongan?

Sebenarnya ini yang kutakutkan. Kenyataan ini yang kutakutkan sedari tadi.

Ia menggandeng tanganku, menuntunku masuk ke ruangan yang penuh sesak itu.

 

*Eight Years Latter*

 

“Kapan kau kembali sayang?” Suara seorang wanita paruh baya membuatku kembali tersenyum.

“Kemarin lusa bi. Bibi sehat? Ah, apa nenek juga sehat?” Kataku sambil memeluk dua orang wanita paruh baya di hadapanku.

“Apa kau hanya memperdulikan bibi dan nenek huh?” Sinis seorang pria.

“Ah paman. Hehehe. Maaf. Tapi kurasa paman sangat sehat.” Sahutku sambil memeluk tubuh besarnya.

“Pulang nanti, kau bersama kami saja.” Tawar wanita paruh baya yang sedari tadi terus menggenggam tanganku erat –ibunda Yixing.

“Ibu. Jangan begitu.” Sergah Yixing. Ia nampak, canggung?

“Woah. Kalian begitu akrab. Kau memang pintar memilih gadis.” Sindir lelaki yang paling jangkung di antara mereka.

“Ck. Gege ini apa-apapan?!” Protesnya tidak suka, yang disambut tawa teman-teman satu groupnya.

“Tentu saja mereka akrab Kris sayang. Sudah begitu lama mereka bersama.” Jelas ibu Yixing yang membuatku langsung tertunduk.

Seluruh yang ada di ruangan itu hanya ber-oh ria dan mulai lagi menggoda Yixing. Membuatku tersenyum lebar saat melihat ekspresinya yang tidak nyaman itu.

 

*Eight Years Latter*

 

Gege. Maaf. Aku tidak bisa lama-lama. Aku harus kembali malam ini juga.” Dapat kuihat tawa lebarnya sirna.

“Kenapa buru-buru sayang? Kau bisa kembali bersama kami nanti.” Kali ini ayah Yixing yang bersuara.

“Ibu tidak mengijinkan aku menginap paman. Sungguh maafkan aku.” Kataku dengan nada sedih.

“Aku antar?” Tawarnya.

“Tidak usah. Terima kasih. Temani saja mereka. Aku bisa sendiri, lagi pula aku akan pulang bersama si Beijing.” Kataku sambil memasang wajah kesal saat mengingat sahabatku yang meninggalkanku begitu saja tadi.

“Ku kira kau sudah lupa dengan julukan itu.” Ia kembai tersenyum manis.

“Tidak mungkin dan tidak akan pernah.” Sahutku ikut tersenyum.

 

*Eight Years Latter*

 

Setelah berpamitan dengan seluruh teman-teman satu groupnya dan keluarga mereka. Aku pun pergi meninggalkan ruangan itu bersama Yixing. Ia bersikukuh mengantarku sampai pintu keluar belakang panggung.

“Terima kasih sudah datang. Aku senang.” Ucapnya sambil memandangku lekat-lekat.

“Sama-sama. Terima kasih untuk tiket gratisnya.” Balasku dengan senyum setulus mungkin.

 

Dapat kurasakan dirinya yang masih terus menatapku yang mulai berjalan menjauh. Mungkin ia masih ingin bersamaku, mungkin. Tapi yang jelas, aku masih ingin terus bersamanya. Hanya saja itu sangat mustahil.

 

*Eight Years Latter*

 

Aku berjalan dengan malas. Rasanya energiku hilang saat tak ada lagi sosoknya di dekatku. Sama seperti delapan tahun yang lalu.

 

Salju kembali turun. Sama seperti tiga hari yang lalu, salju-salju ini menyentuh tubuhku lembut. Namun kali ini sedikit meninggalkan kepedihan.

 

End~

 

DON’T BE PLAGIARISM!!!

https://thehouseoffiction.wordpress.com/

 

Glosarium

Gege: Panggilan untuk kakak laki-laki (Mandarin)

 

Note’s: Kata yang dicetak miring dalam bahasa Indonesia itu berarti si tokoh menggunakan bahasa lain/asing yang asing/tidak dimengerti karakter utama lainnya ya

 

R&R please ;;)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s